“Arts Is An Expression of Honesty, Lead Life Toward Glory”

Solo International Performing Arts (SIPA) will never stop to always provide energy for cultural life in the city of Solo. In each performance, of course with performing arts as a source of energy, there is also the spirit to explore and continue to dig so that the performance can be better and will continue to be better. When SIPA 2011 carried the mask as the theme of the performance, it actually also became part of that spirit. How the theme selection is actually also part of the excavation process from the energy of performance art. Not without cause and just come. On the contrary there is a process of repetitive thinking that finally finds an answer about appropriateness and feasibility.

In the area of ​​culture, when referring to masks of course it will not only stop at an artificial face. But beyond that, the masks also contain a lot of interesting things from the lives of the supporting communities. About territory, customs and traditions, and the lives of many other people are still stored behind the characteristics of masks. This is what will try to be explored as the spirit of SIPA 2011. Finally, if the SIPA 2011 stage will be decorated with many masks from various ethnic communities both from within and outside the country, look at it as the energy power of the performing arts that is being gathered in its strength. Then in Pamedan Pura Mangkunegaran, for three nights of implementation (July 1-3, 2011), that power will be used to further turn Solo into a City of Culture.

 

Pamedan Mangkunegaran, 1-3 July 2011

at 19.00-23.00 pm

 

 

GPH Paundrakarna
Didik Nini Thowok
Sanggar Borneo
Makassar Art
I Nyoman Sura
Teater Aron
Teater Sape’
Daya Presta
Saung Angklung Udjo
Sruti Respati
Leineroebana
Jawaharlal Nehru Indian Culture Center
Janis Brenner
Preservation Society
Mexico
Los Peyoteros
Ronnarong Khampha
University Malaysia Sabah

 

 

PROFILE

 

MASKOT SIPA 2011

GPH PAUNDRAKARNA

Sosok muda nan rupawan, penuh talenta dan kreatif, GPH. Paundrakarna Jiwo Suryonegoro adalah Putera Mahkota sulung dari KGPAA Mangkunagoro IX dengan Sukmawati Soekarno Putri (Putri keempat mendiang Presiden Soekarno). Sebagai putra Raja, cucu Raja dan cucu mantan Presiden bakat dan kecintaanya pada dunia Seni sudah menjadi bagian dari kehidupannya sedari kecil yang diturunkan dari eyang-eyangnya Raja – Raja terdahulu dari eyangnya mantan Presiden Soekarno dan dari sang ibunda. Dari semenjak duduk dibangku sekolah hingga kini ia menjadi bagian dari wadah Seni gruop tari Soerya Soemirat Solo sebagai Penata Seni dan tari serta Kreator. Yang tak lain adalah milik pamandanya sendiri yaitu GPH Herwasto Kusumo adimas dari ayahanda GPH. Paundrakarna.

Semenjak tahun 2000 hingga kini ia termasuk dalam daftar sebagai Pekerja Seni/ Pelaku Seni/ Sineas/ Artist yang diakui dan dikenal. Dab di tahun 2008 ia mendapat penghargaan dari ajang film bergengsi Festival Film Bandung (FFB) sebagai pemeran Pembantu Pria Terpuji lewat Sinetron Tjinta Fatma, Produksi Yayasan Bung Karno yang bercerita tentang kisah cinta Ibu Negara kita yang pertama dengan Ir. Soekarno (Presiden Soekarno). Ia berperan sebagai Datuk Hassandin ayahanda Ibu Negara kita yang pertama.

Iapun pernah merambah ke duia tarik suara. Lagu Hitsnya Gita Cinta Dari SMA ciptaan pamandanya Guruh Sukarno Putra menjadi Theme Song Sinetron Gita Cinta Dari SMA yang sekaligus ia bintangi pula populer di tahun 2004-2005.

Mas Pondra atau Popo begitulah biasanya ia dipanggil juga adalah seorang Photo Model dan Model Kehormatan Perancang terkenal Anne Avantie dan lainnya.

Dengan matangnya pengalaman serta bertambahnya wawasan, bukan Paundrakarna kalau tidak melakukan terobosan baru untuk menghibur masyarakat. Pikirannya maju ke depan dan Idealis. vern matangnya pengalaman serta bertambahnya wawasan, bukan Paundrakarna kalau tidak melakukan terobosan baru untuk menghibur masyarakat. Pikirannya maju ke depan dan Idealis. Berjuang lewat Seni, ingin selalu menghibur, ingin selalu membuat hati orang  senang, ingin selalu memberikan yang terbaik setulus hati kepada dan untuk orang  banyak agar penuh dengan cinta-kasih lewat dirinya maupun karyanya adalah salah satu dari prinsip hidupnya. Tetap pada bidang yang ia cintai, geluti, hadapi, dan jalani.

 

 

 

 

 

 

YOGYAKARTA

Didik Nini Thowok

Didik Nini Thowok adalah salah satu artis yang paling bertalenta di Indonesia. Kemampuan uniknya menguasai dan mengkombinasikan elemen dari berbagai gaya tari Jawa Barat dan Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dia adalah sedikit dari artis yang tetap melestarikan budaya Asia dari persilangan gender dalam tari, pembawaannya dalam karakter perempuan dan kemampuannya dalam berbagai macam tradisi menari.

LPK Natya Lakshita Dance School, studio tari milik Didik Nini Thowok mengajarkan berbagai macam koreografi tari. Dia juga mengajar pada beberapa akademi dan sekolah tari termasuk National Dance Arts Academy of Yogyakarta, AKSAKK (Sosial and Fanily Prosperity Academy of Yogyakarta). Tarian Tradisional berbagai bangsa Didik Nini Thowok telah mengembangkan tarian rakyat klasik dan popular untuk memasukkan tradisi dari kebudayaan Asia yang lainnya. Dengan tradisi klasik sebagai dasar dan karya tarian Aslinya.

Saat kolaborasi dengan artis dari luar negeri, dia telah mendemonstrasikan bakat uniknya dengan mengkombinasikan elemen dari bermacam-macam suku untuk membawa penampilan yang baru dan menarik.

 

MEDAN

TEATER ARON

Komunitas Seni Teater Aron adalah komunitas seni pertunjukan yang didirikan tanggal 5 Mei 2006 di Bandung, hasil prakarsa oleh beberapa pemuda penggiat seni dengan kesadaran memperjuangkan nilai-nilai seni terutama nilai-nilai seni tradisi budaya. Pertama kali didirikan untuk mengikuti festival 7 bahasa 36 jam nonstop dalam rangka memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).

Nama Aron berasalh dari bahasa Karo yang berarti komunitas pekerja. Filosofi nama Aron pada Teater Aron berarti komunitas pekerja yang tidak kenal lelah dalam pengembangkan seni akting/teater. Teater Aron merupakan komunita seni pertunjukan yang merealisasikan ide-ide kreatif dalam bentuk artistik kontemporer.

Beberapa pentas :

  • Drama WAITING FOR GODOT untuk memperingati 100 tahun penulis naskahnya Samuel Beckett dengan sutradara Joey Bangun.
  • 25 Februari 2007, pementasan monolog karya Joey Bangun berjudul KARO DIBALIK TOPENG di Bandung. Pementasan ini kerjasama antara Teater Aron dan website tanahkaro.com.
  • 31 Mei 2007, INLANDER karya Joey Bangun di Bandung.
  • SIBAYAK SI MESIAS, Drama Sendratari Karo ditampilkan di Perayaan Natal Nasional 27 Desember 2008 di Jakarta Convention Center (JCC).
  • PUTRI HIJAU yang merupakan hikayat Karo, Melayu, dan Aceh.
  • 16 April 2010, mementaskan ZENDING Sejarah Penginjilan Karo di Perayaan Jubileum 120 tahun Gereja Batak Karo Protestan (GBKP).

 

PONTIANAK

SANGGAR BORNEO

Nopeng

Masyarakat Dayak mengenal penggunaan topeng dalam berbagai ritual kehidupannya, tradisi topeng ini yang lebih dikenal dengan Nopeng. Fungsi nopeng ini sebagai media transisi roh-roh kamang (hantu baik) untuk mengikuti upacara yang dilakukan dan menerima sesajen yang disediakan. 3 jenis topeng dalam masyarakat Dayak Kanayatn yakni :

  1. Topeng Oho’ yang terbagi menjadi :
  • Oho’ Epak : Hantu yang berada di dalam rumah
  • Oho’ Ujut : Hantu kamang yang memiliki wajah berot tak sempurna
  • Oho’ Balis : Hantu Jahat
  • Oho’ Kara’ : Hantu dalam wujud Kera
  • Oho’ Anjing : Hantu dalam wujud Anjing
  1. Topeng Buta
  • Babi Buta
  • Manusia Buta
  1. Topeng Kalangkuet (burung)

Topeng buta merupakan topeng yang tertinggi dan paling ditakuti. Kostum yang dikenakan dapat terbuat dari kain percak (bekas) karung Goni dan dedaunan.

 

TEATER SAPE’

HUDOQ KAYAAN MENDALAM KAPUAS HULU

Hudoq menurut orang kayaan adalah jelmaan roh-roh baik dan roh-roh jahat. Ada beberapa jelmaan hudoq menurut orang kayaan. Semua jenis hudoq ini dipakai untuk menari yang disebut dengan Karaang Hudoq, dan masa ini dilakukan pada saat masa tanam padi dengan harapan hudoq yang datang dan menari dapat membawa roh-roh padi yang baik.

Dalam atraksinya para hudoq yang datang dari suatu tempat mereka menari mengelilingi rumah betang dan naik ke rumah betang dan kemudian hudoq berhenti sejenak lalu pemilik betang bertanya “apa tujuan kalian datanga?” dan hudoq menjawab “kami datang membawa roh baik, padi yang baik”. Sedangkan pada saat hudoq roh baik di dalam rumah betang, hudoq roh jahat, mereka menari sesuai dengan tipe hudoqnya.

 

 

MAKASSAR

MAKASSAR ART

Rampak Gendang

Rampak Gendang adalah sebuah Karya Musik Tradisi yang diangkat dari musik tradisional Makassar. Tunrung Pakanjarak, Renjang-renjang, Tumbu’na Panggalakkang, dan Pappadang. Yang kemudian diolah menjadi sebuah karya pertunjukan musik, drama, dan tari. Yang kali ini mengangkat tema Kejayaan Topeng.

 

BALI

I NYOMAN SURA

Profil I NYOMAN SURA

Lahir di Denpasar pada tahun 1976, Sura mulai menari saat berusia 7 tahun. Pada tahun 1996, dia lulus dari Institute of Arts di Denpasar, dimana dia menjadi guru. Koreografi pertamanya berjudul “Lakuku” diciptakan pada 1999 dan ditampilkan di Gedung Kesenian Jakarta, disitulah dia dianugerahi sebagai yang terbaik dari 10 koreografer. Pada tahun 2000, Sura tampil di Jerman berkolaborasi dengan penari balet, Marcia Haydee dalam “Rama Shinta”. Tahun 2001, dia tampil di Swiss dan Malaysia untuk berpartisipasi dalam Singapore Art Festival dengan Art Fondation, menampilkan “Ritus Legong” dimana dia bekerja pada koreografi. Kemudian pada tahun 2002, dia menampilkan “Calonarang” di Tokyo. Tahun 2004, dia diundang untuk menampilkan “Bulan Mati/Dead Moon” pada Indonesian Dance Festival yang ke-7 bertempat di Jakarta. Baru-baru ini dia berkolaborasi dengan Garry Malkin, seorang composer dari California, As. Pada tahun 2009, dia tampil dalam Java Jazz Festival Jakarta berkolaborasi dengan Tropical Transit Band tampil di Bedog Art Festival Jogjakarta dan tampil pada “Temu Koreografer 7 Kota”.

 

JAKARTA

DAYA PRESTA

Profil Daya Presta

Daya Presta didirikan pada tanggal 14 Juni 1985, dengan berbagai karya dan prestasi pada :

  • Okt, 1985. Karya Tari Langgam Jakarta dalam Festival Tari Tingkat Nasional.
  • Juni, 1987. Karya Tari Topeng Dogan dalam Lomba Koreografi Indonesia.
  • Feb, 1990. Karya Tari Doger Amprok dalam Festival Tari Daerah dan Tingkat Nasional.
  • Mei, 1998. Karya Tari Sisi Kehidupan (Kolaborasi dengan WS. Rendra dan Bapak Mustika – seniman seni rupa) di Kedutaan Jepang, Jakarta.
  • Juli, 2002. Karya “Bocah Ngamprok” Pagelaran Peska Anak, Gedung Kesenian Jakarta.
  • Juli, 2004. Karya “Bocah Bader” Pagelaran Peska Anak, Gedung Kesenian Jakarta.
  • Juli, 2005. Koreografer Tari, ajang Duta Seni Pelajar di D.I.Yogyakarta.
  • Juli, 2008. Koreografer Tari, ajang Duta Seni Pelajar di Denpasar, Bali.
  • Apr, 2009. Karya Lenggang Ngaron dalam Festival Genderang, Malaka, Malaysia.
  • Juli, 2009. First Runner-Up and The Best Female Dancer Sabah International Folkdance Festival.
  • Nov, 2009. ASEAN CULTURAL INTERACTION in Brunei Darussalam.
  •  

Sampai saat ini masih terus aktif sebagai pengisi acara Tim Kesenian untuk menyambut Tamu Negara. Dan misi kesenian ke beberapa negara, meliputi Negara Jepang, USA, Korea, Belanda, Jerman, Australia, Thailand, Malaysia, Singapore, Syria, Vietnam, Philipine, Jordan, dll.

 

BANDUNG

SAUNG ANGKLUNG UDJO

Profil Saung Angklung Udjo

5 Maret 1929 adalah hari disaat pasangan suami istri Wiranta dan Imi dikaruniai putra keenam mereka, yang kemudian diberi nama Udjo. Kepiawaiannya dalam berkesenian terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Dan kemudian Udjo menjadi seorang guru kesenian di beberapa sekolah di Bandung. Hasrat dan kecintaannya pada seni dan budaya menjadi alasan utama bagi Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati untuk mendirikan Saung Angklung Udjo (SAU). Pernikahannya dengan Uum Sumiati dikaruniai 10 orang putra dan putri. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, mereka mewarisi hasrat dan kecintaan Udjo Ngalagena kepada Angklung.

Pada hari Kamis, 3 Mei 2001 Udjo Ngalagena wafat. SAU tidak berhenti sampai disini, kesepuluh putra-putrinya secara bersama-sama meneruskan langkah SAU untuk terus melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda.

 

KABUPATEN CIREBON

DISBUDPAR

Profil

Nama    : Sanggar Manunggaling Dharmasastra

Alamat  : Desa Tegalwangi Blog Maju , Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon.

Berdiri   : Mei 2007

Karya Seni yang pernah dipentaskan :

  1. Agustus 2007 : Wayang Wong “Sayembara Srikandi” Memperingati HUT RI di Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon.
  2. Mei 2008 : Wayang Wong “Gatot Kaca Sabda Guru” Memperingati Hardiknas di Desa Astapada, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon.
  3. Agustus 2008 : Wayang Wong “Hanoman Duta” Memperingati HUT RI di Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon.
  4. Mei 2009 : Wayang Wong “Sayembara Dewa N” Memperingati Harkitnas di Desa Astapada, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon.
  5. Desember 2009 : Wayang Wong “Kangsa Palastra” Memperingati HUT Kota Cirebon.
  6. November 2010: Sawengining Cerbon “Tari Topeng dan Tayub” UNPAD BANDUNG.
  7. April 2011 : Prosesi Hari jadi Kabupaten Cirebon ke-529 di depan Kantor DPRD Kabupaten Cirebon.
  8. April 2011 : Juara 1 Tari Topeng Palimanan dalam pasanggiri Tari Topeng di Disbudparpora Kabupaten Cirebon.

 

SOLO

SRUTI RESPATI

Profil Sruti Respati

Lahir di Solo, 26 September 1980. Pendidikan kuliah diselesaikan di Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Sastra Daerah tahun 2007. News Caster disalah satu TV lokal Solo ini mulai tertarik dengan dunia seni, khususnya seni suara dan akting pada tahun 2003. Diawali dengan bermain drama tradisional (khetoprak) dan modern (sinetron) pada beberapa stasiun TV Nasional di Indonesia, lalu mulai bergabung dan belajar dengan komposer Darno Kartawi dan Dedek Wahyudi, dan kemudian bernyanyi di beberapa kesempatan karya kreatif mereka.

Setelah terjun sebagai penyanyi profesional, pernah membantu proyek beberapa komposer kenamaan Indonesia seperti I Wayan Sadra (Suluk Hijau – bersama WS. Rendra), Sujiwo Tejo dan band (Drama Musikal “Pengakuan Rahwana;Album Tolu One – Bengawan Solo”), Viky Sianipar (Album Indonesian beauty II – Yen Ing Tawang Ana Lintang), Slamet Gundono (Wayang Suket), Denis Sugiyanto (Keroncong Swastika).

 

BELANDA

LEINEROEBANA

Profil Leine Roebana

Leine Roebana adalah lembaga tari modern yang pusatnya di Amsterdam yang merupakan kolaborasi dari dua koreografer Andrea Leine dan Hariono Roebana. Leine Roebana telah dikenal di dunia tari Belanda sejak 1990.

Mereka mengembangkan tarian unik, tarian bernuansa idiosyncratic berdasarkan pendekatan baru novel yang mengusung unsur simetris, ritme, dan komposisi. Hubungan antara tarian dan musik adalah unsur utama dalam karya mereka. Arah musik mereka adalah tari renaissance menuju karya kontemporer. Hal ini menunjukan kesungguhan mereka dalam mencari keaslian. Denominasi umum adalah pencarian untuk seni ekspresi yang menantang persepsi. Dalam setiap karya, mereka bekerja sama dengan musisi terkenal atau komposer terkenal untuk menciptakan karya yang merupakan simbiosis nyata antara musik dan gerakan.

Karya Leine Roebana telah mendapat berbagai penghargaan bergengsi diantaranya : Penghargaan Cagliari (Itali), Bagnolet (Perancis), Lucas Hoving, Philiph Moris Art (Belanda), dan karyanya telah dipentaskan di Belanda, berbagai tempat di Eropa, Indonesia, Tanzania, Canada, Brazil, dan USA.

 

INDIA

JAWAHARLAL NEHRU INDIAN CULTURE CENTER

Profil Kathakali Mask Dance

ICCR (Indian Council for Cultural Relations), New Delhi mempersembahkan “Kathakali”, tarian topeng dari India Selatan sebagai perwakilan seni dari India untuk tampil pada acara Solo Internasional Performing Arts (SIPA) 2011. Delegasi seni dari India yang dipimpin oleh Bapak Balakrishnan Nair Jagdeesan beranggotakan sepuluh orang.

 

USA

JANIS BRENNER

Janis Branner adalah seorang penari, koreografer, penyanyi, dan pengajar yang telah mendapat banyak penghargaan. Ia juga adalah direktur sanggar Janis Brenner & Dancer di New York. Ia telah banyak melakukan tour di berbagai Negara dan dikenal sebagai seorang singular performer dengan unsur seni yang beragam.

Award :

  • New York Dance and Performer Award 1997
  • Lester Horton Award 1996 di LA
  • Copper Foot Award di Wayne State University, 2010. Dengan karya ”Lost, Found, Lost”
  • Leach Fellowship 1993
  • Penghargaan Dance on Camera, 1986 New York

Sejak berdiri tahun 1985, Janis Brenner & Dance telah tampil di berbagai festival bergengsi seperti Kuan Du Art Festival (Taipe), International Modern Dance of Seoul (Korea), 2001 JakArt di Gedung Kesenian Jakarta dalam Indonesian  Modern Dance Festival (Indonesia), Open Look International Dance Festival (Rusia), dll.

 

 

KOREA

PRESERVATION SOCIETY

Profil Hahoe Pyolshin-Gut T’al-nori

Hahoe Pyolshin-Gut T’al-nori yang merupakan asset kebudayaan berharga No. 69 adalah tarian topeng yang diselenggarakan oleh penduduk di desa Hahoe, Poongcheon-myeon, Andong-si, Kyeongsangbook-do, Korea sejak pertengahan abad ke-12. Tarian topeng ini secara rutin dibuka ssebagai pelayanan spesial desa untuk kedamaian desa dan panen yang baik dari masyarakat pertanian.

Masyarakat Preservasi Drama Tarian Topeng Hahoe yang dikenal sebagai masyarakat preservasi, melakukan aktivitas perluasan dan penyaluran Hahoe Pyolshin-Gut T’al-nori. Masyarakat preservasi menyalurkan dan mengembangkan asset budaya Korea yang penting sekali dan mengumumkan keindahan serta keunikan budaya Korea melalui tarian topeng.

Hahoe Pyolshin-Gut T’al-nori berpadu dengan kehidupan nasional Korea diganggu pada tahun 1928. Bahkan Topeng Hahoe tidak lagi berada di desa dan tempat penjagaannya di Museum Nasional Korea.

Untungnya, Tuan Han-Ryoo yang dilahirkan dan dibesarkan di Desa Hahoe dan sebagai kepala pusat kebudayaan Andong, mampu menghidupkan kembali tarian topeng beserta manuskrip tarian topeng yang dikumpulkan melalui penduduk desa Hahoe. Pertemuan yang dibuat oleh generasi muda dengan pemikiran yang sama untuk menghidupkan kembali tarian topeng.

 

MEXICO

LOS PEYOTEROS

Los Peyoteros diciptakan di Bandung, Jawa Barat, Indonesia oleh tiga mahasiswa Mexico di kesenian tradisional Indonesia dan teman musisi mereka yang berasal dari Indonesia. Grup perpaduan yang mengkombinasikan tradisional dan elemen musik kontemporer, sebagaimana puisi dan drama dari Mexico dan Indonesia.

Alat-alat musik yang mereka gunakan antara lain jaranas Mexico, cajon, seruling, gamelan dari Indonesia, KACAPI (sitar dari Sunda), sadatanah, harpa, pianika, dan segala sesuatu yang menghasilkan musik yang menekankan improvisasi vokal dengan berbagai gaya dan teknik menyanyi yang berbeda.

Kepada SIPA 2011, Grup Peyoteros akan menampilkan sebuah opera musik dan potret tradisional Mexico bersama dengan pertunjukan “La danza de los viejitos” (tarian topeng tradisional). Lagu-lagu yang akan dinyanyikan diantaranya adalah “La Cumbia de los luchadores” (para penggulat), yang berhubungan dengan Lucha Libre (olahraga orang mexico yang menggunakan topeng) sebagai salah satu pertunjukan yang paling dicintai dan berakar di masyarakat  Mexico.

 

THAILAND

Ronnarong Khampha

Profil Ronnarong Khampha

Ronnarong Khampha yang biasa dipanggil “Ong” adalah penari sekaligus koreografer dari daerah Lanna, Thailand Utara yang berpusat di Kota Chiangmai. Dia belajar Tarian Lanna  sejak kecil didesanya dan lulus dengan gelar kehormatan dari Kesenian Thailand, Universitas Chiang Mai rada tahun 2005.

Meskipun backgroundnya adalah penari tradisional, tetapi ia juga menekuni dan mengembangkan tarian modernnya sendiri, tetapi masih mengacu pada tarian tradisional sebagai dasar.

Ong belajar tarian Jawa dan Bali, Indonesia dan pada beberapa karya modernnya ia pun memadukan tariannya dengan model dan gaya dari tarian Bali dan Jawa. Ia telah melakukan berbagai pertunjukan baik di Eropa, Amerika, maupun Asia.

 

MALAYSIA

UNIVERSITY MALAYSIA SABAH

KARYA TARI “TUPING”

Perkataan “Tuping” adalah berasal dari bahasa sehari-hari (logat) secara turun temurun di dalam kehidupan masyarakat suku kaum Dusun dan Murut di Negeri Sabah. Tuping adalah sebutan untuk topeng atau sering digunakan sebagai alat untuk penutup wajah. Dalam karya tari ini banyak memaparkan lika-liku kehidupan, jatuh dan bangkitnya seseorang dalam menghadapi setiap tantangan dalam kehidupan. Yang juga sebagai simboliknya adalah tubuh badan manusia yang terdiri jasmani dan rohani seringkali juga mencerminkan ketidaksamaan. Sehingga terkadang antara hati dengan mulut manusia itu tidak sama seperti apa yang dilakukan dan yang diucapkannya.

Dalam karya tari ini juga menggunakan props taming sebagai lambang perisai yang menggambarkan kekuatan dalam kehidupan manusia yang berfungsi untuk menutupi setiap kelemahan dalam diri manusia yang benar. Namun, akankah untuk selama-lamanya manusia itu akan selalu hidup di sebalik tuping ataukah harus berani untuk keluar daripada kongkongan kehidupan dan menghadapi semuanya itu tanpa adanya tuping-tuping dalam kehidupannya? Marilah sama-sama kita saksikan, persembahan karya tari “Tuping” daripada Sekolah Pengajian Seni, Universiti Malaysia Sabah.