“Generation of World Culture”

Culture is the vital position in many aspects of life. There is cultural existence of the urge to increase the quality of life. It can be done through social life, economy, or any other aspect of life. Therefore, cultural role is very important in human life. However, culture need regeneration continously from the supported society. The aim is that the culture can grow up and develop and then increase the quality of life. Therefore, the world generation cannot stop for the sake of preserving cultural role. These are the purpose of “Generation of World Culture”. There will be a togetherness spirit to the movement of world culture generation from world. The spirit of performing art always becomes the streght of SIPA. The Diversity of performing art form and color from many different countries will be unified on SIPA’s stage. The spirit for world culture generation.

 

 

Fort Vastenburg, 11-13 September 2014

at 19.00-23.00 pm

 

 

11 September 2014
Tunku Atiah & Semarak Candra Kirana
Just Live Dance Production (Germany)
Sanggar Seni Angsana Kabupaten Karimun (Kep. Riau)
ISI Yogyakarta
Sanggar Seni Budaya Gorontalo Inovasi (Gorontalo)

12 September 2014
Institut Kesenian Jakarta
Stepharina, Eva & Atiah (Malaysia)
Maya Dance Theatre (Singapore)
Kumpulan Seni Seri Melayu (Riau)
La Salle University Teatro Guindengan (Phillipines)
Korea & USA
Sanggar Bintang (Kepulauan Seribu)

13 September 2014
Harmonia Orchestra (Solo)
Thailand
Pukchong Lion Dance Play (Korea)
Alinkarwutyee Music & Dance (Myanmar)
Grup Seni Hapsari (Bandung)
Sekolah Musik Indonesia

 

 

PROFILE

  • Yang Mulia Tunku Atiah

Maskot SIPA 2014

Tunku Atiah namanya,tetapi dia memperkenalkan dirinya sebagai Atiah. Dia dilahirkan dan dibesarkan di Johor,Bahru,Malaysia. Atiah merupakan lulusan LASALLE Collage of the Arts Singapura. Atiah mulai menari pada usia 3 tahun di Pura Mangkunegaran,Solo,Indonesia. Saat usianya 8 tahun, dia juga menari balet dan menyelesaikan RAD kelas 1-8. dia berkiblat pada pamannya, GPH Herwasto yang sangat menggemari tari, serta terinspirasi untuk meneruskannya secara professional.

Ketika menuntut ilmu di LASALLE, kecintaannya kepada tari kontemporer bertambah. Tanpa terduga, dia mengembangkan gayanya sendiri yang memiliki unsur Jawa dengan estetis pada gerakannya. Dia suka mengambil resiko dan menantang dirinya sendiri. Berada di situasi yang paling tidak nyaman menantangnya menjadi kreatif dan menemukan perbendaharaan baru tanpa membatasi dirinya.

Menari membuatnya bahagia yang dia percayai saat dia menari. Dia sangat menghargai hubungan yang diciptakan dengan penonton yaitu saat energi penonton membantunya membawa penonton ke tempat dan waktu lain pada setiap penampilannya.

Atiah percaya bahwa dia tidak akan seperti saat ini tanpa Allah, dukungan keluarga dan teman-temannya. Anggota keluarganya adalah pendukung besarnya pada kesenian Jawa yang kaya akan kebudayaan dan kesenian sebagai jalan hidup. Kebanyakan saudaranya adalah penggiat kesenian,koreografer,pemusik,dan aktor.

Dia telah bekerja dengan beragam koreografer, seperti Pat Ibrahim,Chung Yuen Soo, Roberta Shaw,Elizabeth Lea,Foo Yun Ying,Albert Tiong,Gigi Gianthi,Nam Narim,dan Ming poon. Mendapat kesempatan bekerjasama dengan koreografi yang berbeda telah membantunya mengembangkan perbendaharaan gerakan berbeda dan menjadi penari handal.

Berencana melanjutkan pendidikan masternya,Atiah merencanakan untuk melakukan perjalanan,perform,dan akhirnya memulai perusahaan tarinya sendiri. Dia berkeinginan menggunakan keahlian dan pengetahuannya untuk mengembangkan kancah kesenian di Malaysia.

“tari memungkinkanku untuk bertentangan dengan orang melalui gerakan,karena aku tidak pernah ahli dengan kata-kata. Tari adalah upayaku untuk mengutarakan diriku melalui gerakan dan perasaan. Aku berharap bisa membuat orang menyadari pesan dan perasaan dibalik gerakan lebih dari sekedar gerakan. Jatuh cinta dengan tari membuatku menjadi seorang pejuang. Mengatasi tantangan untuk mengejar mimpi.” Atiah.

 

 

  • Maya Dance Theatre Singapore

Didirikan pada tahun 2007, Maya Dance Theatre adalah sebuah kelompok tari non-profit yang menggali bakat mereka dalam adegan tari singapura dengan menyusun sebuah gerkan yang mempertahankan etos tarian Asia.

Dalam perkembangannya, keinginan untuk mengeksplorasi dan berkolaborasi dengan partner yang berbeda dari berbagai disiplin telah menghasilkan produksi yang provokativ yang berusahan untuk mendorong keragaman tari kontemporer asia.

Sejak awal berdirinya, Maya Dance Theatre telah mementaskan karya mereka secara luas baik pertunjukan di tingkat lokal ataupun internasional.

Keseriusannya dalam menjangkau masyarakat melalui tarian, Maya Dance Theatre secara berkala melakukan program pelatihan tari untuk lembaga pendidikan dan di lingkungan masyarakat di Singapura. Dengan esensi dari tradisi,emosi dan eksplorasi sebagai prinsip utama perusahaan,perjalanan baru saja dimulai..

“Tari adalah bahasa yang tidak dibatasi oleh bentuk tarian yang anda sajikan”- Kavitha Krishnan, Artistic Director.

 

ROOTS

Berasal dari tradisi Asia dan mempelopori tari kontenporer Asia, Maya Dance Theatre bersama dengan Singai Tamil Sangan akan menyajikan karya mereka,ROOTS.

ROOTS disajikan melalui kombinasi berbagai gerakan dalam kolaborasi antara tarian Asia (Bharatha Natyam,Zen Dance,Tari Korea dan Tari Jawa) dan barat kontemporer.

Disusun oleh berbagai koreografer budaya yang berbeda : Shahrin Johry,Bernice Lee dan Kavitha Khrisnan dari SIngapura,Dr Sun Oke Lee dari Korea/USA,Janis Brenner dari NYC,USA dan koreografer dari Norwegia/Thailand,Sun dengan pengarah artistik Kavitha Khrisnan dari Maya Dance Theatre,pertunjukan juga akan persembahkan oleh penari dari tarian dan latar belakang budaya yang berbeda dari Maya Dance Theatre Singapura bersama-sama dengan seniman dari Singapura,Indonesia,Malaysia dan Thailand.

Upaya ini untuk menyelaraskan melalui tarian dengan budaya Asia yang secara khusus dipilih dengan tema Solo International Performing Arts 2014, Generasi Kebudayaan Dunia.

 

 

  • Just Live Dance Jerman

Just Live Dance Production Pte Ltd

Satu solo dan dua kelompok koreografi akan menampilkan bakat fleksibilitas dari kelompok tari Just Live Dance Production. Gaya tari yang akan mereka tampilkan adalah balet klasik dengan teknik kontemporer dan unik. Dalam 20 menit ini anda akan menyaksikan sajian tari klasik dan neo-klasik tentang emosi dalam kebersamaan dan kesendirian.

Director : Soren Niewelt

Bersama terpisahkan

Karya “Together Apart” (Bersama Terpisah) mengisahkan tentang perasaan kesendirian yang kita rasakan berkali-kali.

Apakah masih ada yang merasa tidak dalam kesendirian?

 

 

 

  • Teatro Guindengan Filipina

La Salle University Teatro Guindegan

LSU Teatro Guindegan secara resmi didirikan pada juni 2007 karena upaya dan usaha dari Chiedel Joan G. San Diego,Direktur seni dan kebudayaan. Sejak didirikan,Felimon Bonita B;anco ditunjuk sebagai Direktur Artistik.

Nama grup ini diambil dari kata Subanen ‘guindegan’ yang berarti panggung. Sehingga dalam bahasa inggris,Teatro Guindegan berarti Panggung Teater.

Saat ini,Teatro Guindegan merupakan partner Philippine Educational Theater Association’s (PETA) ARTS Zone. Kerjasama ini mengadaptasi PETA’s Rated PG yang menghasilkan produksi lokal yang disebut ISTORYAHE LANG KO.. dan akan berkeliling dengan 10 baronsai di kota Ozamiz dalam kampanye anjuran disiplin.

 

HUGIS

Hugis adalah cerita metaforis tentang asal-usul kehidupan,bagaimana mereka berbentuk/berubah,dan bagaimana mereka membangun dinding dan menuntut kepemilikan ke tempat dimana mereka digunakan untuk berbagi dengan satu sama lain. Tuntutan ini telah mengakibatkan konflik dan kesalahpahaman yang menciptakan efek suara untuk semua orang ruang, termasuk penghancuran sistem penyangga kehidupan mereka, lingkungan mereka dihancurkan oleh perbuatan mereka sendiri. Tapi, ada sedikit percika harapan bahkan jika hancur,tetapi hanya jika mereka mencoba untuk menjangkau dan bekerja sebagai menjadi satu lagi.

Dalam bahasa inggris,Hugis adalah teater fisik yang mencoba memadukan bentuk seni klasik Asia dengan musik dunia untuk menceritakan kisah perang,bencana alam dan isu-isu lingkungan.

 

 

 

  • Kolaborasi Stepharina,Eva Tey & Tunku Atiah

Stepharina

Stepharina yang juga dikenal sebagai Nana,dimuai dari seni tari balet di sekolah tari Crestar pada usia 3 tahun. Dia menyelesaikan ujian akademi Royal Intermediate sembari sekolah. Setelah lulus dengan gelar di bidang tari,Stepharina telah menari di festival tari yang berbeda di luar negeri, tahap pengelolaan pertunjukan tari lokal dan mengajar sekolah-sekolah pemerintahan yang berbeda,studio dan perusahaan. Menciptakan lingkungan yang santai dan meyenangkan, dia mempebolehkan siswanya untuk mengekspresikan diri.

Eva Tey

Setelah menyelesaikan ujian tari balet di Royal Academy of Dance Intermediate, Eva memutuskan untuk menggapai cita-citanya dengan mendaftar di sekolah tari Lasalle College of The Arts. Sejak saat itu,Eva telah bekerja sama dengan koreografer lokal maupun internasional dan telah mementaskan berbagai karya.

Eva menemukan kecintaannya pada koreografi selama belajar di LELASSE. Dia bahkan telah membuat koreogragi sendiri seperti reminisce’ (2012),’From this moment on’(2012),’interface’(2013),’Siren Call’(2014),dan ‘Haptics’(2014).

 

 

  • Pukchong Lion Dance Play

Korea Selatan

Pertunjukan Tari Singa Pukchong adalah drama rakyar yang dipentaskan di Kota Pukchong,Provinsi Hanmkyung,Korea Utara bagian paling utara. Pertunjukan ini dipentaskan oleh warga kota pada malam bulan purnama tahun baru dibulan Januari.

Kita dapat melacak sumbernya kembali ke era tiga kerajaan di korea-Paikje,Shilla dan Kogury. Beras dan Uang yang dibayarkan oleh setiap rumah yang digunakan untuk perkembangan desa. Melalui tradisi ini,harmoni masyarakat dibangun.

Di puluhan desa di Pukchong,mayoritas masyarakat disetiap desa disiapkan untuk pertunjukan barongsai. Setelah mementaskan barongsai pada 14 januari di malam hari, pemain mengunjungi setiap rumah dari tanggal 16 januari dan mementaskan baongsai untuk menyingkirkan roh-roh jahat.

Pukchong Lion Dance

Alat musik yang digunakan untuk pertunjukan tari singa adalah Tung-So (sejenis seruling dari korea),drum dan Jing (gong kecil). Tung-So terbuat dari batang bambu yang menghasilkan suara meriah.

 

 

  • Alinkarwutyee Music and Dance Troupe

Alinkarwutyee Music and Dance Troupe didirikan pada September tahun 1999 dan sudah dikenal di Myanmar. Kelompok ini telah pentas di Kamboja dan India pada 2 tahun terakhir. Pendirinya adalah Mr. Maung Maung Aye. Dia adalah pendiri sekaligus direktur dari Alinkarwutyee Music and Dance Troupe. Tidak hanya sekedar direktur atau pimpinan,dia juga seorang penulis lirik dan musik,vokalis,penulis puisi serta sekretaris Asosiasi Penulis Myanmar.

Sajian :

  1. Shwe Poppa Myaing (tarian untuk menghormati Gunung Poppa)
  2. Duet Dance ( Lagu ditulis oleh Maung Maung Aye,dinyanyikan oleh Maung Mayung Aye dan Shwe Ya Min Oo)
  3. Panoramic Three colors in Myanmar (hijau berarti kedamaian,Kuning berarti agama,Merah berarti keberanian)
  4. Dasagiri dan Sita excerpt (Drama Jataka Grand yang terkenal di Asia Tenggara)
  5. Pagan Dance (Tentang kota Pagan yang tradisional an terkenal serta tari tradisional asli Myanmar)
  6. Myanmar traditional songs and dance
  7. Zaw Dance (puppet show)
  8. Romance to Shan State (Tarian dari daerah Shan)
  9. U shwe Yo Daw Mo (tarian Rakyat Myanmar yang menarik)

 

 

  • Jin Hi Kim

Korea – Amerika

Judul karya : Kembali ke Alam/Tuhan

Sinopsis : Kembali ke tempat asal setelah menjelajah jutaan mil,kembali kepada      ibu semesta

Durasi : 20 menit

Seniman : Jin Hi Kim (Korea/USA),Mugiyono Kasido,Rusini,Marvel Gracia   

(indonesia)

Jin Hi Kim dikenal di dunia internasional seorang komungo virtuoso inovatif (alat musik tradisional papan sitar Korea pada abad keempat) dan anggota Guggenheim dalam bidang komposisi musik. Kim saat ini menjadi anggota McKnight Visiting Composer juga American Composers Forum ( Forum Komposer Amerika) dan Asia Cultural Council 2014 Mandarin Oriental Fellow. Kim di anugerahi penghargaan sebagai komposer orkestra Amerika. Dia juga sebagai peserta 2014 Arts Catalyze Placemaking Fund dari Departemen Kebudayaan Connecticut dan berpartisipasi dalam project New York Philharmonic Credit Suisse Very Young Composers berkolaborasi dengan Korea Arts and Culture Education Services.

Mugiyono Kasido

Mugiyono Kasido lahir di Jogodayoh Klaten. Sejak kecil telah akrab dengan dunia seni pertunjukan dan dia tumbuh dalam keluarga dalang. Mugi belajar tari sejak usia delapan tahun dan kemudian melanjutkan ke SMKI Solo serta ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta.

Mulai mengkoreografi pada 1992 dan karya perdananya “Mati Suri” meraih Trophy Mangkunegaran IX sebagai penyaji tari kontenporer terbaik.

Pada 2011 Mugi mendapatkan anugerah MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk menari dan mengkoreografi “Bima Suci” selama 36 jam nonstop di Taman Mini Indonesia Indah,Jakarta.

Mugi menciptakan karya tari tunggal maupun kelompok dan pada tanggal 1992 dia mendirikan Mugidance. Dia telah melakukan kolaborasi dengan seniman dari berbagai negara seperti “someshine” (jerman,inggris,israel,indonesia, “Mask Dance Symbiosa” (indonesia Thailand), “Digambara” ( Indonesia,Swedia), “Ejecting Human” (Indonesia,Korea dan Thailand) “Back to Source” (Indonesia,Korea/USA) dan lain-lain.

Marvel Gracia

Lahir di Solo pada 2006, Marvel mulai pentas menari di depan umum sejak usia 5 tahun di Boyolali. Sejak itu dia intens pentas bersama ayahnya Mugiyono Kasido di Thailand (International Puppet Festival) Korea Selatan,Jakarta (Indonesia Performing Arts Mart),Yogyakarta,Solo (SIPA 2012). Marvel juga telah berkolaborasi dengan seniman dari Swedia,Korea Selatan dan Thailand. Pada 2014 dia telah tampil menari tunggal.

 

 

  • Sanggar Seni Angsana

Kabupaten Karimun (kep.Riau)

Profil

Sanggar Seni Angsana Kabupaten Karimun

Penata Musik : Lioni Jaya Putra

Koreografer : Sinta Trilia Rossa

Personil :

  1. Dedi Hermansyah
  2. Restu Dharmika Putra
  3. Dharmarullah Putra
  4. Raja Zulfriansyah
  5. Muhammad Nurazhariansyah
  6. Sinta Trilia Rossa
  7. Aprida
  8. Putri Ajeng Kumala Sari
  9. Indah Permata Sari
  10. Rorita
  11. Loni Jaya Putra
  12. Abdullah Hafiz
  13. Prasetia Nugraha
  14. Sudarmaji
  15. Jeprizal

 

Sinopsis

TANDAK MENDUE MUKE

Tarian ini diangkat dari seni budaya tradisi Joget Dangkung pulau Moro Kabupaten Karimun Kepulauan Riau. Tandak dalam bahasa melayu berarti joget berpasangan. Garapan tari ini mengangkat kisah kehidupan malam para penari dangkung yang menjalani kehidupan mendue muke, melayani dan menghibur para lelaki namun penolakan dan pemberontakan dalam hati kecil yang dijalani tak dapat terelakkan,dan tetaplah penari yang selalu menghentakkan kaki mengikuti rentak gendang serta pukulan gong. Tari dikemas dalam bentuk garapan tari kreasi kekinian yang tidak meninggalkan pola joget tradisi dangkung.

“wajah nan cantik rupe menawan…”

“lelaki melirik hati tertawan…”

 

 

  • Institut Kesenian Jakarta

Jakarta

Didirikan pada tanggal 26 Juni 1970,awalnya Institut Kesenian Jakarta adalah gabungan dari lima akademi yakni Akademi Tari,Akademi Teater,Akademi Musik,Akademi Seni Rupa dan Akademi Sinematografi. Festival kali ini, Institut Kesenian Jakarta diwakili oleh fakultas Seni Pertunjukan dengan 15 musisi pendukung dalam satu tim termasuk penata musik.

  1. Bale – bale Godhong

Merupakan interpretasi baru musik gamelan Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan sisipan lagu – lagu rakyat (llir-ilir,Suwe Ora Jamu,dan Gambang Suling). berkisah tentang kilas balik seseorang yang sedang menghadapi akhir perjalanan kehidupannya.

  1. Paris Berantai

Berasal dari provinsi Kalimantan Selatan,ditulis oleh H. Anang Ardiansyah. Lagu berpengaruh Melayu ini berkisahkan mengenai kerinduan seseorang yang terpendam dan muncul dalam mimpi.

 

  • Harmonia Orchestra

Solo

Harmonia Orchestra merupakan kelompok musik berbentuk orchestra yang anggotanya asli berasal dari solo. Sekumpulan musisi ini sudah bermusik bersama sejak tahun 2008 hingga 2013 disepakatilah nama Harmonia Orchestra yang dipimpin oleh Mursid Hananto sebagai conductor,arranger dan juga music director pada tahun 2013. pada saat ini terdapat 35 musisi yang aktif. Saat ini Harmonia Orchestra dibina dan difasilitasi secara langsung oleh Achmad Purnomo.

  1. Winter Game
  2. Merpati Putih
  3. Coppacabana
  4. Bring Me To Life
  5. Semusim
  6. Es Lilin (Lagu Daerah Sunda)

 

  • Gorontalo Inovasi

Gorontalo

Sanggar seni budaya “Gorontalo Inovasi” didirikan berdasarkan kebutuhan akan suatu wadah budaya dimana banyak potensi dan prestasi yang ada belum terakomodir atau dikelola secara maksimal. Sudah banyak sekali prestasi yang sudah diraih baik nasional maupun internasional.

 

SINOPSIS

Gorontalo adalah salah satu daerah adat yang memiliki beragam keunikan budaya di indonesia dengan salah satu karakteristik atau nilai budaya gorontalo. “MOLUMBOYOTO TO AYUWA” menggambarkan kehidupan sosial di gorontalo dan sifat yang baik  sebagai cara orang gorontalo berkomunikasi dengan orang lain.

 

 

  • Sanggar Seni Hapsari

Bandung

Visi : menjadi sanggar seni yang mampu dijadikan sebagai wadah kreativitas para seniman,pecinta seni,dan generasi penerus untuk mengangkat karya seni yang bersumber dari seni tradisi.

Misi :

– sebagai ajang kreasi bagi para seniman,khususnya seni pertunjukan yang bersumber dari seni tradisi.

– sebagai ajang atau media bagi para seniman khususnya untuk menampilkan seni tradisi sebagai sumber penciptaan seni,secara terkelola dan terkemas.

– sebagai ajang atau media bagi siapa saja yang mencintai seni,yang ingin mengangkat,melestarikan serta mengembangkan,baik dalam bentuk wacana maupun seni pertunjukan.

– sebagai ajang atau media untuk mengembangkan minat dan bakat dalam seni tradisi (tari,karawitan,dan teater) bagi generasi muda dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang berkesinambungan.

– sebagai partner Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,mengangkat dan memperkenalkan seni tradisi di Bandung,Jawa-Barat,Nasional maupun Internasional.

 

Tari Kelangan

Tari kelangan menggambarkan citra diri manusia masa kini yang terkadang lupa akan nilai-nilai hakiki nurani.

 

 

  • ISI Yogyakarta

Yogyakarta

Koordinator tari : Dr. Hendro Martono, M. Sn

Stage Manager : D. Suharto

Koreografer : Erry Novia Hermawan Suteja

Penata Iringan : Anon Suneko

Penata Rias : Hermawan Sinung Nugroho & Pulung Jati

Penata Busana : Fufu Fuadi

Penari : Hermawan Sinung Nugroho,Pulung Jati,Triyonggo Handito,Putra Jalu Pamungkas,Wsnu Dermawan,Ahmad Nur Arifin,Dahana Murpratama,I Putu Gede Bagus Bang Sada,I Gede Radiana Putra

Pemusik : Anon Suneko,Anom Wibowo,Sudaryanto,Eri Wimbo,Welly,Natalia,Jibril.

SINOPSIS

Aku meraung seperti harimau yang marah

Aku melolong bak serigala yang siap menerkam mangsa

Akulah raksasa dari segala kekerdilan sikap dan kemunafikan

Aku datang dari pekatnya kegelapan

Bagiku wajah satu hanyalah wajah yang dimiliki mereka yang pengecut

Wajah satu hanyalah selubung bagi manusia yang tak memiliki keberanian untuk menampakkan kesejahtian wajahnya yang beragam.

 

 

  • Sanggar Kumpulan Seni Seri Melayu

Riau

Profile Kumpulan Seni Seri Melayu

Kumpulan Seni Seri Melayu (KSSM) merupaka suatu perkumpulan seni yang didalamnya tergabung generasi muda yang penuh semangat,kreatifitas dan talenta dalam bidang seni tari khususnya budaya melayu Riau. Kelahiran kelompok ini didasari oleh kecintaan sekelompok muda-mudi dan rasa keinginan untuk dapat mengembangkan seni budaya tradisi.

SINOPSIS

Durasi : 25 menit

Judul : “Berseri Melayu”

Penata Tari : Sunardi,Amd. Sn

Penata Musik : Anggara Satria,Amd

Penari : Silvia Muldani,Anggia Puspita,Syefriani,Senna Jean Morinka,Riska Efriani,Syafrinaldi,Ibnu Dermawan,Ayzhu Wijaya,Trisno Hutasoit,Ari Justandur.

Sinopsis : Melayu memiliki keragaman dan keunikan ragam budayanya. Keunikan rentak zapin,joget dan inang menjadu inspirasi karya ini. Dikemas dalam tema “berseri melayu” dengan bentuk penyajian yang meriah dan dinamis tanpa menghilangkan unsur kemelayuannya.

 

 

  • Sanggar Bintang

Kepulauan Seribu

Tim Kesenian

Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu

 Koreografer : Budiastuti

Drum : Dekanipa

Perkusi : Yayat

Gitar : Peter

Bass : Nadias

Violin/Biola : Nanda

Accordion : Sartono

Gendang : Kukuh

Penyanyi : Donny & Rima Azhary

Penari : Silvia Afrilia,Nayla Masnah,Ika Indriyani,Frezaila Harasani,Nurmala,Nur,Nurul,Febi,Khairul dan Boy

SINOPSIS

Pulau Babang

Pulau Babang adalah tradisi masyarakat Kepulauan Seribu yang berarti kesadaran untuk pulang ke kampung halaman setelah melaut untuk waktu yang lama,kembali untuk keluarga dan masyarakat dengan berkahan rezeki yang dibawa dari laut. Kebahagiaan yang dirasa ketika para Bapak/Lelaki kembali ke rumah.