“MAHASWARA”

The world where we live is needing MahaSwara. Preventing from getting deaf and mute of many human values. It is about peace, friendship, nature, conservation, and any other human values that we leave behind. We have to unite it all for the sake of the world’s harmony.
This humanity spirit becomes a special message in SIPA 2016. With the power of performing arts, Sipa tries to ehoing the values of humanity. In hope that the world will listen.
In SIPA 2016 stage, the spirit of MahaSwara will be expressed through performing arts especially the musical ones. Most of the performance emphasize musical instruments more. Although there are any other sounds instead of musical instruments will be played as well. The beauty of humanity values will be resounded in the splendor stage of Sipa 2016. Everyone unites in same desire and hope of MahaSwara.

 

 

Fort Vastenburg, 8-10 September 2016

at 19.00-23.00 pm

 

 

DELEGASI PENAMPIL

8 September 2016
Maskot Peni Candra Rini & SCK (Solo)
Maya Hasan (Jakarta)
Park Na Hoon (Korea)
Dewa Budjana (jakarta)
Premijit Manipuri Dance Group (India)
Djaduk Ferianto & Kua Etnika (Yogyakarta0

9 September 2016
Premijit Manipuri Dance Group (India)
Trodon & Fajar Satriadi (Jakarta)
Keteng-keteng Girls (Medan)
Nadi (Singapura)
Neil Chua & Ruanatworkz (Singapura)
Malaysia & Rodrigo Parejo (Spanyol)
Peni Candra Rini (Solo)
Duo Ubiet & Dimawan (Jakarta)
Komunitas Seni Tadulako (Palu)

10 September 2015
Gondrong Gunarto & Friends (Solo)
Viky Sianipar (Jakarta)
Elly D. Luthan (Jakarta)
Philip Graulty & Blessing Chimanga (USA-Zimbabwe)
Gangsadewa (Yogyakarta)
Sruti Respati & Indro Hardjodikoro (Jakarta)

 

 

PROFILE

  • PENI CANDRA RINI

Mascot of SIPA 2016

Peni Candara Rini merupakan seorang komposer,penulis lagu dan penyanyi (tradisional&Kontemporer). Peni juga merupakan seorang pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Program studi Karawitan. Penyanyi muda berbakat ini memiliki banyak bakat yang sangat langka sebagai “sindhen”.

Peni menyandang predikat sebagai sindhen muda terbaik pada saat acara “Seleksi pesindhen Remaja Se-Karisidenan Surakarta” 19-20 Maret 2005 di Pendhapi Gedhe Balaikota Surakarta. Peni juga menerima mendali perak untuk pertunjukan vocal terbaik di Spring Friendship Art Festival di Pyong Yang,Korea Utara. Peni telah berpartisipasi dalam berbagai festival dan berkolaborasi dengan seniman yang berbeda di seluruh dunia.

JUDUL KARYA : MAHASWARA

 

  • Keteng-Keteng Girls

Medan

Dalam kesenian tradisional Karo ada beberapa instrumen perkusi yang dipakai dalam bentuk ansambel. Salah satunya adalah keteng-keteng yang dipakai dalam bentuk ansambel Kulcapi. Kebiasaan masyarakat Karo khususnya dalam konteks adat, sebelumnya belum pernah ada pemusik wanita yang tergabung dalam ansambel musik.

Namun dalam konteks pertunjukan,Keteng-Keteng Girls dianggap perlu tidak hanya dalam konteks bunyi. Wanita (ibu) yang sebenarnya punya pengaruh besar dalam perkembangan anak dalam hal ini identitas suatu etnis pasti memiliki rasa yang lebih mendalam terkait rasa. Keteng-Keteng Girls diharapkan menjadi agent-agent yang mempertahankan esensi tradisi itu dalam kontes bunyi dan rasa.

JUDUL KARYA : “BERU DAYANG JILE-JILE”

 

“Masyarakat Karo mempunyai beberapa cerita rakyat yang terkait dengan konsep falsafah hidup dalam konteks sosial dan budaya. Salah satunya adalah Beru Dayang Jile-Jile,Menurut cerita Baru Dayang Jile-Jile sengaja diturunkan oleh Dibata Kaci-Kaci (salah satu Tuhan pada kepercayaan masyarakat Karo)ke bumi untuk meberikan benih-benih padi untuk ditanam oleh masyarakat Karo.

 

 

  • Maya Hasan

Jakarta

Maya Hasan mulai tertarik dengan harpa sejak SMP dan belajar harpa dari Heidy Awuy. Memang saat itu di Indonesi ahanya ada dua orang yang terbilang master harpa, yaitu Awuy dan Ussy Piters anggota TNT Orchestra. Pada tahun 1990, Maya melanjutkan sekolah ke Wilamette Univeristy,Salem,Oregon,Amerika Serikat. Mengambil jurusan Harp Performance. Selama menuntut ilmu, Maya juga tergabung dalam The Salem Chambers Orchestra ,Salem,Oregon,Amerika Serikat. Maya juga mendapatkan penghargaan seperti The Music Talent Award, The Stannus Music Award,The Violet Burlingham M.P.E Award,Golden Music Award,dan lain-lain.

 

  • Dewa Budjana

Jakarta

Dewa Budjana dikenal tergabun dalam Gigi,pendiri band ikonik pada tahun 1994. lebih dari dua puluh tahhun kemudian mereka masih tetap bertahan. Telah terilis 25 album sampai saat ini, dan memperkuat status mereka sebagai salah satu yang terbesar,band pop rock yang paling sukses di Indonesia. Ambisi Dewa pada saat instrumen alat musiknya melebihi kesuksesannya,ia telah merilis delapan album solo,menjelajahi dengan lebih berani ke jazz/fusion/sisi progresif.

Album mendatang akan dirilis dalam beberapa bulan yaitu merupakan album ganda “Zentuary”. Pada kesempatan khusus ini Dewa bekerjasama dengan : legenda jazz modern yang ikon Jack Dejohnette : ikon rock progresif,Tony Levin dan multi-berbakat virtuoso,Gary Husband.

 

 

  • Duo Ubiet & Dimawan

Jakarta & Yogyakarta

Nyak Ina Raseuki atau lebih dikenal dengan sebutan Ubiet sebagai penyanyi telah menjelajahi berbagai jenis genre musik. Dari musik populer (pop dan jazz misalnya) sampai dengan musik yang bertolak dari aneka khazanah tradisi nusantara,dan musik kontemporer. Bersama Tony Prabowo, seorang komposer musik kontemporer Indonesia yang di khazanah dunia,terutama Amerika Serikat, ia menghasilkan aneka pementasan dan rekaman Album Solo yang dihasilkannya.

Judul Karya : “Duo Vokal & Cello”

Pada kesempatan ini, akan ditampilkan Duo Ubiet & Dimawan. Ubiet dan Dirmawan telah bekerjasama dalam beberapa proyek musik,diantaranya Kroncong Tenggara,Dededengan,Sa’unine serta beberapa kerjasama musik lainnya. Kali ini mereka akan berkolaborasi menjelajahi bunyi-bunyian gabungan vokal dan cello, dengan selaan elektronik di sana-sini. Fokus dan inspirasi penjelajahan mereka terutama pada nyanyian Nusantara,termasuk yang berhubungan dengan jajaran nada,warna suara,ritme,dan seterusnya. Pola kerjasama mereka antara lain dengan jalan improvisasi terstruktur.

 

 

  • Komunitas Seni Tadulako

Palu

Komunitas Seni Tadulako didirikan oleh kalangan masyarakat yang peduli terhadap Pemberdayaan Manusia dan senibudaya dari suatu Komunitas Masyarakat Lokal. Pendirian lembaga ini berawal dari keinginan besar untuk melakukan pembangunan,pemberdayaan serta pengembangan Seni budaya yang sangat beragam di Sulawesi Tengah. Pendirian komunitas Seni Tadulako di prakarsai oleh Hapri Ika Poigi dan Zulkifly Pagessa sebagai manifestasi dari keinginan yang besar untuk berkarya. Sampai saat ini konsepsi yang diterapkan dalam pengembangan budaya materiil dan ekspresif harus menggali kembali akar budaya yang akan ada di Sulawesi Tengah,sehingga riset dan study baik secara intuitif dan ekspresif maupun secara ilmiah menjadi dasar pijak bagi setiap garapan karya.

Judul Karya : “Indoku Bumi Umaku Langi”

“ Budaya Tutur To Kaili Memberikan Ungkapan “Indoku Bumi Umaku Langi/Ibuku Bumi ‘Ayahku Langit”. Merupakan simbol penghargaan terhadap tanah kehidupan dan langit bagi beserta benda-benda disana, yang memberikan energi bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Secara musikal karya ini memaksimalkan satu konsep garapan yang dibagi dalam 3 bagian penting,dimana instrument-instrument yang digunakan bersumber dan realitas khasanah tradisi yang masih berlangsung pada masyarakat adat yang ada pada etnik kaili,selain itu instrument vocal masih menjadi dominan dalam garapan ini yang diilhami oleh spirit nyanyian rakyat.”

 

  • Gondrong Gunarto & Friends

Solo

Gondrong,sapaan akrab Gunarto adalah seorang musisi serta komposer yang lahir dan di besarkan dalam keluarga yang mempunyai latar belakang seni tradisional,dia pitera dari seorang dalang. Karena kemauan dan keingintahuannya yang besar,dia banyak belajar berbagai macam aliran musik di luar musik tradisional jawa sehingga pengalaman tersebut membawa dia kedalam sebuah penciptaan musik “baru”.

Sejauh ini “gondrong” telah banyak tampil baik di indonesia maupun di luar negeri. Gondrong telah membuat CD album musik The Works (2007) dan VCD konser tunggalnya Puncal Mubal Tangan Ngapal (2003) Dukkha,Gondrong Gunarto Music Consert (2013). dengan kelompok Sono Seni Ensembel mengeluarkan empat album yaitu Suita Suit,Suita 42 Hari,Autis 4J dan No End In Sight (2000-2006).

 

  • Gangsadewa

Yogyakarta

Gangsadewa adalah kelompok ansambel etnis kontemporer. Sebuah kelompok musisi yang memainkan berbagai instrumen etnik nusantara. Digagas oleh seorang komposer yang bernama Memet Chairul Slamet dengan mengusung genre kontemporer disetiap komposisi sisi garapannya. Berdiri pada tahun 2004 dan telah melalang buana sebagai duta seni budaya di mancanegara, serta telah membuat karya bersama / kolaborasi dengan komposer manca maupun pelaku seni lintas disiplin baik nasional maupun internasional serta telah menghasilkan tiga album rekaman.

Judul Karya : “Grebeg”

“Setiap bunyi mengandung makna yang dapat ditangkap sesuai dengan presepsi masing-masing individu. Sendangkan presepsi sendiri dapat dirangsang melalui sensasi dari warna bunyi yang sudah direkayasa melalui berbagai jenis instrument. Gangsadewa sebagai group musik dalam format ensambel campuran ragam instrument etnis yang dalam kesempatan ini juga akan menghadirkan beberapa jenis instrument tiup logam. Dengan demikian diharapkan akan menghasilkan warna bunyi yang tidak lazim. Rancangan struktur karya ini berangkat dari ragam instrument yang akan dipergunakan,dengan kata lain jenis instrument bisa menentukan form atau bentuk karya ini. Dinamika harmoni menjadi kesatuan dengan kontras yang dibangun pada setiap frase yang mengalir saling silang menyilang baik vertikal maupun horizontal.”

 

 

  • Musim Keroncong Sruti Respati – Indro Hardjodikoro

Jakarta

Sruti Respati lahir di Solo Jawa Tengah,dan sejak usia muda sudah mengakrabi dunia seni pertunjukan. Sruti juga kerap diundang tampil menyanyi di berbagai ajang acara,diantaranya tampil dalam pentas Sruti Respati di Bentara Budaya Jakarta (2010),pembukaan SEA Games 2011,terlibat dalam konser Masterpiece of Erwin Gutawa,tampil bersama Emerlad band dalam Solo City Jazz 2012,berkolaborasi bersama Dewa Budjana dengan format kuartet akustik bersama ketiga musisi lainnya dalam panggung Salihara Jazz Buzz 2012,dan lain-lain.

Indro Hardjodikoro biasa dipanggil Indro,adalah seorang pemain bass berkebangsaan Indonesia. Pada awal 1990-an digamit oleh Erwin Gutawa untuk mengiring Ruth Sahanaya,pada konser solo rayanya di Graha Bhakti Budaya. Selepas konser tersebut,Indro masuk mendukung Erwin gutawa orchestra. Selain itu juga mendukung Addie MS dengan Twilite Ochestra-nya dan mendukun Andi Rianto dengan Magenta Orchestra-nya.

Karir musik Indro,diisinya pula dengan mengecap pengalaman bermain dengan berbagai musisi luar negeri. Seperti ia bersama Dwiki Dharmawan dan band-nya,bermain di New York,Chichago,Saint Louis dan Beijing.

 

 

  • Djaduk Ferianto & Kua Etnika

Yogyakarta

Gregorius Djaduk Ferianto yang lebih dikenal dengan nama Djaduk Ferianto ini adalah seorang aktor dan seniman musik Indonesia. Dalam bermusik,Djaduk lebih berkonsentrasi pada penggalian musik-musik tradisi. Djaduk adalah salah satu anggota kelompok musik Kua Etnika,musik humor sinten remen,dan Teater Gandrik. Selain bermusik,Djaduk juga menyutradarai beberapa pertunjukan teater dan menggarap ilustrasi musik untuk sinetron televisi.

Kua etnika didirikan oleh Djaduk Ferianto,Butet Kertaredjasa dan Purwanto pada tahun 1995 yang merupakan medan interaksi dan sejumlah pekerja seni : Pemusik,penyair dan pemain teater. Dalam payung kelompok musik Kua Etnika,mereka melakukan penggalian musik-musik etnik,perkusif dan memadukannya dengan instrument elektrik. Kua Etnika mengolah musik etnik dengan sentuhan atau nafas modern,tanpa harus kehilangan spirit dasarnya. Dalam prakteknya,pola-pola irama tradisi dikembangkan semaksimal mungkin,sehingga diharapkan lahir musik etnik alternatif. Dasar keyakinan kerja kreatif itu ialah bahwa musik etnik di Indonesia,baik instrument,melodi,maupun iramanya,senantiasa terbuka terhadap kemungkinan baru.

 

  • Elly D. Luthan (DLDC)

Jakarta

Elly D. Luthan seorang seniman Indonesia yang berprofesi sebagai penata tari atau koreografer. Ia mengelola Deddy Luthan Dance Company yang didirikan oleh suaminya,Deddy Luthan (alm) seorang penata tari ternama Indonesia. Deddy Lithan Dance Company (DLDC) sebagai komunitas seni secara konsisten mementaskan karya-karya yang diharapkan dapat mewakili sekaligus menjadi spirit dan kekuatan masyarakat khasanah budaya bangsa ini melalui kesenian.

Judul Karya : “Latar Jembar”

Bukankah kita memang selalu berada di sebuah ‘latar perjalanan hidup yang ‘jembar’?’ antara rumah dan pelataran yang hanya sebatas ‘pintu’,kita akan menentukan langkah berjalan di arys kehidupan. Melangkah bukan tanpa tujuan tetapi juga tidak harus memaksakan capaian. Menerima dan menikmati apapun yang ada,sebagaimana sebuah pelataran rumah hidup kita,yang dihadiri oleh berbagai peristiwa,dan mungkin saja disinggahi oleh siapa saja. (by Yanusa Nugroho).

 

 

  • TRODON & Fajar Satriadi

Jakarta & Solo

Trodon adalah nama baru bagi Tiamat yang lahir pada januari 2013. pada januari 2014,Tiamat berganti nama menjadi Trodon. Sejak itu,mereka tak lagi memiliki nama yang sama dengan grup death metal asal Swedia. Nama group ini diambil dari nama salah satu jenis Dinosaurus,yakni Troodon,yang konon adalah jenis dinosaurus terpintar yang hidup di zaman Cretaceous. Mereka kerap memainkan karya musik Instrumental yang dipengaruhi jazz rock progresif,dengan mereka yang berwatak progresif instrumental membuat mereka unik dipanggung Indonesia saat ini. Pada kesempatan SIPA kali ini,Trodon akan berkolaborasi dengan Fajar Satriadi berasal dari Solo.

Judul Karya : “Nyanyian Angin”

“Angin Sumba membawa pesona dalam jiwa. Suaranya melengking menggeram,berteriak,menangis bahkan tertawa dan kemudian seperti merenung. Kesan angin Sumba membekas dalam jiwa. Kami teringat akan cerita Bima Suci dalam pewayangan Jawa dimana Bima disuruh gurunya yaitu resi Dorna untuk mencari Kayu Gung Susuhing Angin. Dalam ujian akhirnya Bima menemukan bahwa angin dalam jiwa dan sukma,membawa ruang hening yang sempurna. Bunyi dari alat musik yang lahir mengeskpresikan gelisahnya Angin Makro yang berkomunikasi dengan Alam Mikro dan bergulat,menggeliat serta berjuang dan berupaya memasuki ruang keheningan yang ramai. Suasana bunyi akan lahir dari pertemuan tersebut.”

 

  • Viky Sianipar

Jakarta

Viky memulai karir musiknya dengan memainkan lagi di banyak klub musik di Jakarta. Disitulah dia mulai mempunyai referensi gaya musik yang mematahkan pemikiran fanatiknya mengenaik musik rock dan heavy metal yang dikenalnya sejak masa SMA. Karena ia tidak pernah belajar di sekolah musik formal,klub malam lah yang membuat ia menjadi guru musik Vicky dengan memperkenalkan berbagai macam genre musik dari pop,jazz,R&B,dan hip hop. Hasil eksplorasi viky terhadap musik rakyat Batak telah menghasilkan lima seri almbum Toba Dream termasuk didalamnya lagu rakyat tradisi dari Batak yang di aransement ulang dan dikombinasikan dengan gaya musik barat. Viky berkolaborasi musisi tradisional untuk menjaga esensi rasa Batak dalam musiknya. Bagaimanapun juga,sebagian besar instrument barat dari album Toba Dream dimainkan oleh Viky sendiri.

Judul Karya : Toba World

Toba World adalah musik dunia yang dihubungkan oleh viky sianipar yang didalamnya tertanam misi memperkenalkan budaya tanah airnya untuk dunia. Musik ini akan membawa si pendengar untuk mengalami perasaan kebersamaan yang hangat,dan getaran angin gunung sejuk dari peradaban timur yang unik dari Danau Toba di Sumatera. Instrumen Batak asli akan dikolaborasikan dengan baik dengan sentuhan Westrn New Age dan Fussion Ambient. Lagu dengan tempo lambat mungkin dapat membuat si pendengar meneteskan air mata sekaligus menenangkan secara rohani serta lagu-lagu tempo cepat akan membuat di pendengar menari dengan sukacita. Toba Dunia adalah simbol cinta,perdamaian,dan keterikatan antara barat-timur.

 

  • Premijit Manipuri Dance Group

India

Group tari Premijit merupakan salah satu grup tari di India yang sangat popular. Grup ini berasal dari bagian utara-timur India dan telah tampil dibanyak acara nasional dan internasional.

Premijit Manipuri Dance Troupe didirikan pada tahun 2001. Group ini telah terlatih tarian-tarian Manipuri (salah satu tarian tradisional India) seperti Pung Holom,Dhol Cholom,Tari Klasik,Tarian Rakyat (Folk Dance),Tarian Suku (Tribal Dance),Bela diri dan sebagainya.

Grup Tari Manipuri ini juga sudah tampil di penjuru India dan banyak negara lainnya,dan lagi,grup ini juga tampil di India’s Got Talent – Khoj 2,di Rashtrapati Bhavan (Kediaman Presiden India),di New Delhi pada tahun 2012 untuk konferensi Indo-Asean yang dihadiri beberapa presiden dari luar negeri.

Untuk acara kali ini,SIPA,grup ini di sponsori oleh Indian Council of Cultural Relations (ICCR),yang dimana menyangkut tarian tradisional Manipuri,penari drum,yang mempunyai energy luar biasa dan sinkronisasi sempurna di dalamnya,dan juga penampilan-penampilan mengagumkan lainnya.

 

 

  • Philip Graulty

USA

 

Dilahirkan pada 1980 di Los Angeles,California,USA. DIa mendapatkan gelar S2 di bidang music di UCLA di Studio Gitar di Peter Yates. Graulty juga merupakan pendiri ensembel gitar elektrik di Los Angeles Elektrikk 8 di tahun 2007 dan sekaligus menjadi co-direktor dari tahun 2010 sampai 2013. Sekarang dia men direct Bridge to composer Derrick Spiva Jr. di tahun 2016 rekaman Graulty dengan Electric 8 termasuk Interlocking Textured (2012),Imagined Overtures (2009),dan Plays Shastakovich,Mendelson,Braddock,Siegel,dan Kohl (2008).

Dia tampil dan melakukan Rekaman bersama Sanubar Trusun (Cina Barat),Peni Candra Rini (Jawa,Indonesia) dan lain sebagainya. Dia telah menerima penghargaan Artist Residency di Saga Fest Iceland (2015) dan dikenal di Los Angeles dimana ia tampil,memproduksi dan mengajar music.

 

 

  • Rodrio Parejo

SPANYOL

Rodrigo Parejo adalah seorang improviser dan pemain flut spanyol yang berdedikasi dalam kreatif improvisasi musik jazz dan world music. Keberagaman ini membawanya untuk berpartisipasi dalam proyek yang berbeda – beda dan orang – orang kreatif seluruh dunia.

Beliau bertempat di Belanda sejak tahun 2003, Tempat dimana ia lulus dari Royal Concervatory di The Hague dibidang Jazz performance, setelah menerima juga edukasi di Banff Center of Arts (Canada), SIM (New York, Oslo) dan Institut Seni Indonesia Surakarta.

Secara rutin, beliau melakukan perjalanan rutin ke Asia, dimana ia terus belajar, berkreasi, bertukar dan mencari penagalaman mengenai budaya, dan musik di negara – negara Asia Tenggara.

Dalam SIPA 2016 Rodrigo Parejo tampil bersama Pitutur dan Boby Budi Santosa.

 

  • Blessing Chimanga

Zimbabwe

Blessing Chimanga adalah seorang musisi berbakat berumur 25 tahun yang memainkan 3 alat musik yakni drum, marimba, dan perkus. Dia juga seorang pengarang musik, aranse, penulis lagu, dan seorang penyanyi.

Dia telah bermain dengan banyak musisi internasional dan dia juga tampil di panggung – panggung besar lokal dan internasional.

Di umur 25 tahun dia dilihat sebagai salah satu musisi Zimbabwe dengan perkembangan yang paling cepat dengan perjalanannya, penampilannya, dan workshopnya di negara- negara besar di seluruh dunia.

Blessing juga bekerja dikapal pesiar swedia bernama “The Galazy”. Sebagai musisi dan penghibur. Agustus 2013 dia dinominasikan sebagai The Best Marimba Coach in Africa setelah memenangkan 6 penghargaan di Internasional Marimba dan Steelpan Competition di Afrika Selatan yang berisikan lebih dari 2000 peserta. Dia telah dengan berhasil membawakan workshop perkusi dan marimba diseluruh dunia seperti di SSEA dan Festival yang berisikan lebih dari 10 sekolah internasional di Afrika.

 

  • Nadi Singapura

Singapura

Dibentuk pada November 2011, Ensembel Nadi Singapura ini dibentuk oleh sekelompok pemusik muda yang mencintai music drum dan perkusi tradisional mereka. Nadi, yang jua berarti detakan atau ‘aliran kesadaran (flow of conciousness)’ dalam bahasa malay, berisikan alat musik Malay Tradisional yang ditemukan di Singapura dinamakan Kopang, rebana, jidur, dan gendang. Ansembel ini dipimpin oleh dua pemusik terkenal di Singapore Malay Art, pemusik Rebana, Yaziz Hasan dan drummer, Riduan Zalani. Kedua penemu ensemble ini bertujuan untuk menjadikan Nadi Singapura menjadi ensemble dinamis yang mengadopsi pendekatan inovatif menggunakan drum Archipelago Malay. Saat ini, ensemble ini terdai dari 50 pemusik denan latar yang berbeda – beda yang bersatu denan visi dan misi yang sama.

Produksi perkusi mereka sebelumnya, Journey of the Pulse (2013), menerima ulasan yang baik dari rekan professional. Ensemble ini sangat dihargai oleh masyarakat sehingga menuju tampilnya kembali Journey Of The Pulse : The Revival (2014). Walaupun masih tergolong muda, Nadi Singapura, telah berpartisipasi dan memimpin inisiatif untuk mempromosikan seni tradisional termasuk pertukaran dalam budaya dan antar budaya. Tujuan dari pembentukan Nadi Singapura adalah untuk menyebarkan suara Kepulauan Malay, dengan keunikannya yang berbeda dari kota singa. Penampilan – penampilan tersebut termasuk Andong International Mask Dance Festival & Competition 2015 (South Korea), Sharq Taronalari 2015 & 2013 (Uzbekistan), Incheon Asian Games 2014 (South Korea), Tainan International Drum Festival 2013 (Taiwan), Hefei Wanda 2013 (China), Dongkong Festival 2013 (Indonesia) and Pesta Gendang Nusantara 2012 ( Malaysia). Nadi Singapura Ltd diberikan penghargaan the Singapore Gold Cup Award 2014 dan juga meraih Narional Arts Council’s Seed Grant for the period from 1 April 2013 to 31 March 2016.

 

  • Neil Chua & Ruanatworkz

Singapore & Malaysia

Lulusan dari Shanghai Conservtory of Music, Neil Chua merupakan musisi pertama dan termuda yang menerima gear Master di Ruan. Neil Chua, bertempat di Singapura, adalah pendiri dari Ruantworkz Musical Arts, komunitas non-profit yang mempromosikan budaya, seni, music, dan berbagai bentuk budaya tradisional lainnya. Neil Chua juga merupakan musisi pertama yang diminta untuk mewakili Malaysia untuk berpartisipasi dalam One Beat, yaitu program pertukaran biro edukasi dan budaya di departemen Amerika Serikat di tahun 2014 dimana ia diberikan kesempatan untuk berinteraksi, mengedukasi, dan mempromosikan Ruan ke murid – murid dan musisi – musisi seluruh dunia di Amerika Serikat.

Menjadi lulusan pertama dengan gelar Master berjurusan musik (Ruan), Neil membawa rasa tanggung jawab untuk menginspirasi dan mengadvokasi kekayaan budaya tradisional alat musik China. Ia mendedikasikan waktunya untuk mempromosikan prinsip musik Ruan dengan bekerja dengan komposer – komposer, musisi – musisi muda, dan meng-conduct kelas secara rutin untuk memberikan pengetahuannya akan musik kepada murid – muridnya.