Delegasi Luar Negeri

1. La Salle University Teatro Guindegan (Filipina)

Universitas La Salle Teatro Guindegan secara resmi didirikan pada bulan Juni 2007 melalui upaya dari Dr. Chiedel Joan G. San Diego (Direktur Dinas Seni dan Kebudayaan) dan Felimon Bonita Blanco (Direktur Artistik).

Universitas La Salle Teatro Guindegan merupakan pendiri pertunjukan Mindanao: (Student Theater Network), sebuah kelompok teater berbasis perguruan tinggi di daerah  Mindanao, Filipina.

Karya yang akan ditampilkan :

Sinugdan adalah sebuah teater tari kontemporer yang berasal dari asal usul masyarakat Subanen di Zamboanga Peninsula.

Tuhan yang Agung menciptakan seorang wanita dan memerintahkannya turun ke bumi untuk menyelesaikan sebuah misi. Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan salah satu roh dari 7 gunung yang kemudian menjelaskan misinya. Sang wanita harus menetap di bumi agar suatu bangsa menjadi terus tumbuh dan tanah menjadi subur, setelah bumi dilanda banjir besar. Di bumi, dia bertemu dengan seorang pria dari timur yang menaruh saputangan di bahunya dan tiba-tiba dia mengandung dan hamil. Mereka mengisi bumi dengan keturunanya.

 


2. Silhouette Art Performance (Malaysia)

Grup ini dibentuk pada tahun 2015 atas dasar minat di bidang tari yang memadukan unsur tarian rakyat tradisional dengan kontemporer untuk menciptakan karya baru dalam tarian kontemporer. Grup ini disutradarai oleh Mohammad Farid Nostan dan Ismadian Ismail yang merupakan lulusan dari Akademi Seni Budaya Dan Warisan Kebangsaan yang dikenal dengan ASWARA. Dengan latar belakang penari yang berbeda, kami percaya bahwa kami akan membangun jembatan dalam menciptakan kesempatan untuk berbagi pendekatan dalam pembuatan, proses dan pertunjukan tarian

Karya yang akan ditampilkan :

I’nggo Pacu (Mana Kuda), koreografi oleh Mohammad Farid Nostan. Tarian ini adalah hasil eksplorasi gerakan yang diambil dari tarian rakyat Kuda Pasu dari Bajau Samah, Kota Belud Sabah. Penari meniru gerakan energik dari kuda yang penuh gairah. Tarian ini juga mewakili budaya dan kesatuan dari masyarakat Bajau Samah. Dengan menggunakan gaya dan kemampuan penari, tarian ini unik karena tidak dibatasi oleh aturan tarian tradisional.


3. Joel Inzunza & Company (Chile)

Joel Inzunza Leal, seorang koreografer, manajer budaya, penari dan guru. Wadah tersebut terbentuk antara negara Chile, Prancis dan Argentina. Joel bekerja sebagai koreografer yang menyambungkan budaya Chile, Meksiko, Brasil, Argentina dan Swiss. Dia telah memimpin Joel Inzunza & Company sejak tahun 2008.
Karya yang akan ditampilkan :

BLIND SPOT (Punto Ciego) adalah sebuah pengalaman di mana tubuh bergerak seperti terdesak dan mengalami tekanan, membuka celah pada tiap adegan, membiarkan kita sekilas melihat hasil gerakan yang cermat di tingkat dan dimensi spasial yang berbeda. Selain itu, karya tersebut menciptakan dunia yang spekulatif di mana sang tubuh kemudian melintasi berbagai negara dan sensasi yang memberi arti baru bagi kondisi manusia yang sendiri dan terisolasi.

BLIND SPOT adalah sebuah perjalanan, sebuah gambaran perjalanan yang melintasi geografi yang berbeda dari seorang pria dan sebuah ruang.

BLIND SPOT (Punto Ciego) dipentaskan pada tahun 2009 dan 2013 di Concepción-Chile, X Festival El Cruce di kota Rosario, Argentina pada (tahun 2010), dan Biennial Dança Sao Paulo SESCSP di Kota Santos, Brasil (September 2011)



4. Melanie Lane (Australia)

Melanie Lane adalah koreografer dan penari berdarah Jawa/Australia. Berbasis di Eropa dari tahun 2000-2014, Melanie bekerja dengan berbagai seniman seperti Arco Renz Kobalt Works, Club Guy and Roni, serta Tino Seghal dengan tampil secara internasional. Sejak 2007, Melanie merupakan kolaborator artistik untuk perusahaan tari asal Belgia, Kobalt Works Arco Renz, yang berkolaborasi dalam proyek di Belgia, Norwegia, Jerman dan Indonesia.

Pada tahun 2015, Melanie ditunjuk sebagai resident director di Lucy Guerin Inc. Melanie membuat sebuah karya yang telah ditampil di festival dan teater internasional seperti Tanz im August, Festival Uzes Danse, Gedung Kesenian Melbourne, Festival Seni Taipei, Festival Tari Musim Semi, O Espaco do Tempo, Festival Antigel, Dance Massive dan HAU Hebbel am Ufer Berlin. Melanie merupakan seniman yang tinggal di Dock 11 Berlin, Tanzwerkstatt Berlin, Lucy Guerin Studios dan Schauspielhaus Leipzig.

Melanie Lane juga telah menghasilkan kolaborasi karya dengan para seniman seperti musisi Clark, koreografer Morgan Belenguer, seniman visual Martin Boettger, Ash Keating dan Bridie Lunney. Dia tampil di Lucy Guerin ‘Split’ (2017) dan bergabung dengan Antony Hamilton Projects untuk berbagai karya, seperti Drift (2011), Black Project 1 (2012) Ruth (2015) dan ‘Number of the Machine’ (2017).

Pada tahun 2014, Melanie ditugaskan untuk membuat sebuah karya baru yaitu ‘Spacekraft’ di Schauspiel Leipzig. Melanie membuat pertunjukan live tahun 2014/2015 dan tahun 2017 untuk electronic musician asal Inggris, Clark, saat tampil di Field Day London, Moma PS1 New York, Villette Sonique Paris dan Festival Barcelona / Istanbul Sonar.

Pada tahun 2016, Melanie ditugaskan oleh Chunky Move untuk membuat sebuah karya baru yaitu ‘Re-make’ dan ‘Wonderwomen’, yang diproduksi bersama dengan teater LOFFT dan HAU di Jerman. Pada 2017, Melanie, sebagai kolaborator koreografi, membuat video karya seni baru ‘Evanescence’ yang disusun oleh Amos Gebhardt dan juga menampilkan karya barunya ‘Nightdance’ di Arts House pada bulan Agustus.

Melanie telah menjadi guru tamu untuk perusahaan seperti Carte Blanche Norway, Sasha Waltz dan Guests, Chunky Move, Danish Dance Theatre, Skanes Dansteater, Sydney Dance Company, Teater Tari Bangarra dan Nordwest/Tanzcompagnie Oldenburg.

Karya yang akan ditampilkan :

TILTED FAWN

PERTUNJUKAN TARI YANG BERKOLABORASI DENGAN SOUND COMPOSER CLARK

Melalui instalasi suara visual yang dibangun dengan memanfaatkan 12 rekaman audio yang terintegrasi dengan objek patung dan koreografi, Tilted Fawn menampilkan dialog antara suara, ruang dan gerakan. Dalam tarian yang dimainkan, lingkungan berubah menjadi sebuah pahatan lanskap ilustrasi sonik dimana penari dihadapkan pada penggabungan dimensi sensorik yang tegas. Melalui pengembangan teknik dan fungsionalitas ‘lama’ dari mesin tape, komposisi suara menjadi entitas pribadi, yang membangkitkan perasaan melankolis dan mengenalkan dunia yang kaku/dingin, intim dan utopia.


5. Azpirasi (Singapore)

Azpirasi didirikan pada tahun 2000 dan dengan perlahan mengukir nama untuk dirinya sendiri di arena tarian nasional. Sama seperti banyak asosiasi tari lainnya, Azpirasi dibentuk dengan tujuan untuk memastikan tarian dan budaya Melayu terus berkembang meski modernisasi di Singapura. Azpirasi percaya bahwa tarian adalah bahasa ekspresi dengan dialek yang tak terbatas. Kami mendekati tradisional dengan semangat penemuan dan berusaha untuk mengeksplorasi tubuh manusia dan kehidupan yang mengelilingi.

Azpirasi telah membuka jendela kesempatan bagi para penari yang ingin mengejar gairah mereka dan memperdalam pemahaman mereka tentang tarian Melayu. Azpirasi terdiri dari pemuda-pemuda yang penuh gairah yang mendedikasikan waktunya untuk seni. Satu dekade, Azpirasi telah berkolaborasi dengan berbagai kelompok tarian profesional dan semi profesional dari seluruh Singapura. Saat ini, Azpirasi memiliki 25 anggota tari dan sebagian besar terdiri dari siswa dan orang dewasa muda

Karya yang akan ditampilkan :

Judul Karya : Rumah

“Luas bumi, kedalaman samudra, namun ….

Kami hanya buta terhadap rumah yang dia berikan.

Seluasnya bumi,

Sedalamnya bahari,

Sebutanya kami dengan rumahku ini. ”