Ranah Teater – Padang

RANAH TEATER

Prolog

Sejak didirkan pada 2007, Ranah Teater berlandaskan, teater pada akhirnya hanyalah ‘alat’ mempertemukan manusia: Sebuah kendaraan yang bisa didatangi manusia (pemain) dari mana saja untuk diangkut ke ‘halte’ kesepahaman, baik dalam latihan maupun membangun visi.

Dari kesepahaman itulah kami mulai mencari dan menggali apa yang bisa kami buat. Kami mendasarkan diri pada apa yang kami punya, baik dalam lingkungan sosial maupun geografis. Alasannya: alas yang dicari, mestinya alas yang dekat, sering dilihat dan (benar-benar) dipahami. Maka kesenian tradisi Minangkabau menjadi pilihan yang paling memungkinkan. Tradisi inilah yang kami olah sedemikian rupa sehingga menjadi tradisi baru atau post tradisi.

Pada akhirnya, penonton jenis apapun akan bisa menyaksikan pertunjukan kami, sepertihalnya pemain yang juga boleh datang dari mana saja. Dari pertemuan antara pemain dan penonton juga diharapkan muncul koneksi. Koneksi, yang tentu saja tidak perlu muncul seketika saat penonton meninggalkan gedung. Tetapi, juga saat penonton berada di trotoar atau kamar mandi, misalnya, satuhari, satu tahun atau sepuluh tahun setelah pementasan usai.

 

Sandiwara Pekaba

(Kisah Percobaan Pembunuhan Tuanku Imam)

Sinopsis:

Satu peristiwa penting terjadi di saat kaum Paderi bertempur dengan Belanda di abad 18. Dalam masa Perang Paderi itu, percobaan pembunuhan dilakukan terhadap pimpinan Bonjol, Tuanku Imam. Istri dan anaknya terbunuh. Tuanku Imam menerima 12 tusukan tapi tidak meninggal. 

Siapa yang membunuhnya? Apa yang melatarinya? Apakah percobaan pembunuhan ini hanya dimaksudkan untuk membakar amarah rakyat Bonjol sehingga menyebabkan terjadinya peristiwa pembantaian di Masjid Besar Bonjol? Atau hanya suksesi pimpinan agama dan adat yang menyebabkan retaknya Bonjol dari dalam?

Sejarah sunyi menjawabnya. Hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *