Dalam Negeri

Delegasi Dalam Negeri SIPA 2018

Melati Suryodarmo lahir pada 1969 di Solo, Indonesia. Melati menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Bandung pada 1994 kemudian memulai pendidikan seni rupa dan pertunjukan di Hochschule für Bildende Künste Braunschweig (Universitas Seni Braunschweig), Jerman, dan menyelesaikannya pada 2003. Melati sering mengangkat tema manusia dalam kehidupan politik, sosial, berkaitan dengan kejiwaan manusia dan filsafat kebudayaan dalam bermasyarakat melalui karya-karyanya. Bentuk-bentuk karyanya lebih banyak berupa seni pertunjukan. Seni pertunjukan yang diciptakannya sebagian besar berdurasi panjang dan banyak ditampilkan di museum atau galeri di berbagai negara. Karya seni pertunjukan yang disebut berdurasi panjang itu di antaranya adalah Der Sekundentraum (1998), Alé Lino (2003), I LOVE YOU (2007), Perception of Patterns in Timeless Influence (2007), Conversation with the Black (2011), I am a Ghost in My Own House (2012), dan Transaction of Hollows (2016). Namun dengan bekal ilmu ketubuhannya yang berbasis tradisi Jawa, Butoh (seni gerak dari Jepang), dan seni pertunjukan; Melati juga menciptakan karya koreografi tari yang khas. Sejak 1994 hingga 1999, Melati banyak tampil sebagai penari pada produksi Anzu Furukawa (Jepang). Karya koreografi Melati antara lain Rindu (1996), Kashya-Kashya Muttiku (1996), Sur le Vent Du Temps (1997), Almost There (2011), Sisyphus (2014), Tomorrow as Purposed (2016), dan Vertical Recall (2017).

Sejak 2007, Melati memberikan fasilitas pada Performance Art Laboratory (PALA) dan acara seni pertunjukan “undisclosed territory” yang diadakan setiap tahun. Berkarya dan berkarir di Jerman selama lebih dari 20 tahun, Melati akhirnya kembali ke Solo dan meneruskan proses berkaryanya di kota kelahirannya tersebut pada 2011. Pada 2012, Melati mendirikan Studio Plesungan di Karanganyar sebagai ruang alternatif laboratorium seni pertunjukan.

Melati Suryodarmo & Studio Plesungan

feat Semarak Candrakirana akan menampilkan karyanya yang berjudul

“Sakhsat”

Sakshat merupakan pemaknaan kembali tentang Ramayana, sebuah epik tua yang banyak dimainkan atau dilakonkan dalam pewayangan.
Sakshat mencoba menelisik makna dari lakon-lakon utamanya, sebagai simbol dari watak-watak manusia yang menjadi penentu jalan hidup manusia. Menganggap bahwa Ramayana adalah sebuah filsafat kehidupan manusia yang mendalam, konsep tentang keseimbangan antara jiwa, pikiran dan ego menjadi sangat penting. Di dalam kehidupan ini, manusialah yang berperan dalam tragedi-tragedi kemanusiaan. Kesadaran akan keseimbangan hidup akan mempengaruhi bagaimana manusia hidup dalam kehidupan masyarakat yang seimbang dengan segala aspeknya, antara manusia, alam, dan kekuatan Ilahi. .

Melati Suryodarmo was born in 1969 in Solo, Indonesia. Melati finished her studies at the Department of International Relations Padjadjaran University, Bandung in 1994 then started art education and performances at Hochschule für Bildende Künste Braunschweig (University of Art Braunschweig), Germany, and completed it in 2003. Melati often raised the theme of human in political, social, related to the human psyche and cultural philosophy in society through his works.

Many of Melati’s works are more in the form of performing arts. Performing arts that she created mostly has long duration and widely displayed in museums or galleries in various countries. Thiese performance artworks included Der Sekundentraum (1998), Alé Lino (2003), I LOVE YOU (2007), Perception of Patterns in Timeless Influence (2007), Conversation with the Black (2011), I am a Ghost in My Own House (2012), and Transaction of Hollows (2016). However, using her knowledge in body works based on Javanese tradition, Butoh (motion art from Japan), and performing arts; Melati also produces distinctive dance choreography. From 1994 to 1999, Melati appeared as a dancer in the production of Anzu Furukawa (Japan). Melati’s choreographies included Rindu (1996), Kashya-Kashya Muttiku (1996), Sur le Vent Du Temps (1997), Almost There (2011), Sisyphus (2014), Tomorrow as Purposed (2016), and Vertical Recall (2017 ).

Since 2007, Melati provides facilities at the Performance Art Laboratory (PALA) and the annual “undisclosed territory” performing arts event. Had been working and had a career in Germany for more than 20 years, Melati finally returned to Solo and continue her process in her hometown in 2011. In 2012, Melati founded Studio Plesungan in Karanganyar as an alternative space of performance art lab.

Mengenal berbagai alat musik sejak kanak-kanak dan bahkan merupakan murid termuda yang belajar biola di Taman Ismail Marzuki pada 1971, Gilang Ramadhan justru paling menyukai drum. Walaupun sempat sempat belajar piano dan organ dengan komponis kondang, Slamet Abdul Syukur, di Perancis, Gilang tetap meneruskan studi drum-nya di Hollywood Professional School, Amerika Serikat, pada 1980. Nyaris bersamaan, Gilang juga mengambil jurusan perkusi di Los Angeles City College sembari ikut bermain dalam beberapa band lokal seperti LACC Big Band.

Gilang kemudian bermain dengan banyak sekali band begitu kembali ke Indonesia pada 1985. Berbagai band tersebut antara lain adalah Nebula dengan Indra Lesmana, GTF, Exit, Karimata, Krakatau (1986), dan Andromeda (1987) bersama musisi jazz ternama Tanah Air seperti (Alm.) Jack Lesmana, Bubi Chen, dan Indra Lesmana. Ketika banyak musisi papan atas berhenti berkarya, Gilang Ramadhan terus aktif membuat terobosan dalam berbagai genre. Gilang pernah menjadi drummer untuk band beraliran rock God Bless (2004), band beraliran free jazz PIG (dengan Indra Lesmana dan Budi Dharma), sampai band beraliran ethnic-fusion Nera dan Komodo Band.

Kedatangan Gilang kembali ke Indonesia dengan gaya permainan drum yang progresif dan technical skills yang mumpuni praktis membuat banyak orang terkagum-kagum. Selain dikenal sebagai drummer Nomor 1 di Indonesia dan Asia, suami Shahnaz Haque (selebriti dan presenter) ini juga adalah seorang pendidik yang berhasil membimbing lusinan drummer terbaik Indonesia. Gilang Ramadhan merupakan ikon dan pendiri Gilang Ramadhan Studio Band Music School.

Gilang Ramadhan dengan Spirit SALONDE feat. Smiet dari Palu, Sulawesi Tengah

Smiet Lalove Palu, mengangkat local sound suku Kaili Gimba (alat tetabuhan dalam ritual adat Balia); dan Lalove atau seruling adat (alat tiup khas Kaili yang digunakan dalam ritual pengobatan tradisional Balia), serta menggunakan teknik vokal Kaili khusus nyanyian pegunungan dan teknik vokal suku-suku di pedalaman Sulawesi Tengah.

Already familiar with various musical instruments since childhood and even served as the youngest violin student at Taman Ismail Marzuki in 1971, Gilang Ramadhan had a precise love for drums. Although he had time to study piano and organ with famous composer, Slamet Abdul Syukur, in France, Gilang continued his drum study at Hollywood Professional School, USA, in 1980. Almost simultaneously, Gilang also majored in percussion at Los Angeles City College while participating in several local bands such as LACC Big Band.

Gilang then played with a lot of bands once back to Indonesia in 1985. Various bands include Nebula with Indra Lesmana, GTF, Exit, Karimata, Krakatau (1986), and Andromeda (1987) with famous jazz musicians such as the late Jack Lesmana, Bubi Chen, and Indra Lesmana. When many top musicians stop working, Gilang continued to actively make breakthroughs in various genres. Gilang has been a drummer for rock band God Bless (2004), a free jazz band PIG (with Indra Lesmana and Budi Dharma), up to Nera’s ethnic-fusion band and Komodo Band.

The arrival of Gilang back to Indonesia with a progressive drum style and qualified technical skills amazed people. In addition to being known as No. 1 drummer in Indonesia and Asia, Shahnaz Haque’s husband (celebrity and presenter) is also an educator who managed to guide dozens of Indonesia’s best drummers. Gilang is an icon and founder of Gilang Ramadhan Studio Band Music School.

Gilang Ramadhan with Spirit SALONDE feat. Smiet from Palu, Central Sulawesi

Smiet Lalove Palu uses the local sound of the Kaili Gimba tribe (a tool in the Balia traditional ritual); and Lalove or traditional flute (a typical Kaili wind instrument used in Balia traditional medicine rituals), as well as using Kaili’s special vocal techniques of mountain singing and tribal vocal techniques of Central Sulawesi.

Boogie Papeda, seperti biasa dia dipanggil, lahir pada 8 Juli 1987 di Sorong, Papua Barat. Pada 2006, Boogie masuk sebagai mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Lalu pada 2017, Boogie ditunjuk sebagai koordinator dan koreografer Jakarta Dance Festival, khususnya pada pertunjukkan Street Pass dan Cipta Urban. Boogie juga terlibat dalam acara PostFest yang diselenggarakan Pascasarjana IKJ sebagai koreografer Street Pass, Komunitas Cipta Urban, dan Noken Lab. Baru-baru ini, Boogie juga terlibat dalam “Solo is Solo (Reimagine City Graffiti)” yang digagas oleh Sardono W. Kusumo di koridor Jalan Gatot Subroto, Solo. Pada SIPA 2018 ini, Boogie akan menampilkan karyanya bersama dengan Street Pass.

Boogie Papeda, as he was usually called, was born on 8 July 1987 in Sorong, West Papua. In 2006, Boogie entered as a student of the Jakarta Arts Institute (IKJ). Then in 2017, Boogie was appointed as coordinator and choreographer of the Jakarta Dance Festival, especially on Street Pass and Cipta Urban performances. Boogie was also involved in the PostFest event held by IKJ Postgraduate as a Street Pass choreographer, Cipta Urban Community, and Noken Lab. Recently, Boogie was also involved in “Solo is Solo (Reimagine City Graffiti)” initiated by Sardono W. Kusumo in the corridor of Jalan Gatot Subroto, Solo. At this SIPA 2018, Boogie will showcase his work along with Street Pass.

KOMUNITAS STREET PASS

Street Pass adalah sebuah komunitas seni pertunjukan yang telah melakukan proses berkesenian di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, sejak 2006. Komunitas ini mengadakan pelatiihan, pengembangan, dan penciptaan tari yang memadukan berbagai jenis tarian tradisional Indonesia dengan tarian dari kebudayaan asing (Barat dan Asia) sehingga terciptalah inovasi/pengembangan berbagai macam tarian urban. Komunitas Street Pass beranggotakan para penari jalanan yang berasal dari Indonesia Timur. Para penari ini merantau untuk mengikuti berbagai kompetisi tari yang sering diadakan di Jakarta. Nama “Street Pass” diambil dari lokasi tempat tinggal mereka yaitu di Jalan (Street) Kalipasir (Pass), Jakarta Pusat.

Street Pass is a performing arts community that has been performing art in Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta since 2006. This community organizes training, development, and dance creation that combines various types of traditional Indonesian dances with dance from foreign culture (West and Asia) to create innovation/development of various kinds of urban dance. Street Pass Community consists of street dancers from Eastern Indonesia. The dancers migrated to Jakarta so that they can attend various dance competitions held there. The name “Street Pass” is taken from their residence located at Jalan (Street) Kalipasir (Pass), Central Jakarta.

Judul Karya : “NOKEN”

Adalah tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu. Sama dengan tas pada umumnya, tas ini digunakan untuk membawa barang kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat Papua biasanya menggunakan Noken untuk membawa hasil kebun. Noken juga bisa diubah tempat tidur anak ketika ibunya sedang bekerja atau setelah pulang berkebun.

Di era ini, Noken menjadi multi-fungsi. Noken tidak hanya diisi hasil kebun saja melainkan bisa juga untuk keperluan lain sesuai kebutuhan si pemakai. Oleh sebab itu, Noken sangat dibutuhkan masyarakat Papua.

Orang Papua menyebutnya “Noken Kehidupan”.

  • Pendukung
  • Penari:
  • Chistian I Karubaba
  • Maria Regina Yanuarika Putri Santoso (Rera)
  • Paulus . H . Saflessa.
  • Rheza Oktavia
  • Pemusik:  Dimas Mufli Utomo

Work Title: “NOKEN”

Noken is a Papuan traditional bag that is carried by head and made from wood fibers. Same with bags in general, this bag is used to carry daily necessities.

Papuans usually use noken to bring the produce of the garden. Noken can also be changed to a child’s hammock when mother is at work or after returning home from the field.

In this era, noken is multi-function. Noken is not only filled with yields but can also be used for other purposes according to the needs of the user. Therefore, noken is needed by the Papuan.

Papuans call it “Noken of Life”.

 

Performers

  • Dancer: Rheza Oktavia (Eja)
  • Maria Regina Yanuarika Putri Santoso (Rera)
  • Caroline (Olin)
  • Dinni
  • Musician: Dimas Mufli Utomo

 

Ciptaning Candradimuka adalah sebuah lingkung seni yang terbentuk dalam proses kreatif tugas akhir Citra Nuranteni. Tidak hanya sampai disitu, kemudian komunitas ini berpartisipasi dalam berbagai festival tari tingkat Jawa Barat. Pada tahun 2015 komunitas ini mendapatkan berbagai penghargaan, seperti pada Pasanggiri Karya tari yang diadakan di Taman Mini Indonesia Indah komunitas ini mendapat penghargaan koreografer terbaik, di tahun yang sama pada lomba karya Tari, Musik, dan Teater yang diadakan oleh propinsi Jawa Barat mendapat penyaji terbaik 1, koreografer terbaik, serta penata musik terbaik. Komunitas ini membuat karya-karya yang mengangkat nilai ketradisian serta lokal budaya suatu wilayah, dan mengembangkan berbagai unsur seni rakyat sebagai kekuatan karya-karyanya.

Ciptaning candradimuka is a community formed in the creative process of Citra Nuranteni’s final assignment. Not only that, then this community participated in various West Java level dance festivals. In 2015 this community received various awards, such as in dance art work competition held at Taman Mini Indonesia Indah this community received the best choreographer award, in the same year the Dance, Music and Theater competition held by the province of West Java first winner, the best choreographer, and the best composer. This community creates works that elevate the local cultural and cultural values ​​of a region, and develop various elements of folk art as the strength of its works.

Nama-nama Pendukung :

  • Koreografer : Citra Nuranteni Putri S.Sn M.Sn
  • Komposer : Jaja D.M S.Sn M.M
  • Penari : Deri Al Badri S.Sn, M Ridwan, Ashraf fauzan, Purna Tri
  • Pemusik : Hilmi,
  • Lighting : Fajar Octo
  • Penata make up : Mutiara Adinda Handayani S.Sn

Judul                                     : CH3 (Cepot Hamot Hamong Hamemangkat)

Sinopsis CH3:

Keberagaman Seni Bidaya Tradisi di Indonesia, merupakan sebuah identitas bangsa serta kekayaan yang harus dipertahankan. Globalisasi, perkembangan zaman, serta kemajuan teknologi bukanlah suatu hambatan untuk mempertahankan identitas bangsa ini. Cepot merupakan sebuah representasi masyarakat pribumi, Yang mencari solusi mempertahankan budaya bangsanya yang terkikis oleh sbuah pola pikir sebagian lapisan masyarakat, yang membaginya kepada dua golongan (masyarakat tradisional dan modern). Hal ini bukan hanya mengenai bagaimana budaya ini lahir, juga bukan mengenai bagaimana bangsa ini berkembang. Melainkan bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia, dengan kemajuan teknologi dapat memperkenalkan Budaya Seni Tradisi sebagai kekayaan kepada dunia. Budaya Seni Tradisi Indonesia dapat dikatakan dalam keadaan kritis, melayang, mengambang tak tahu arah tujuan. Meninggalkan ketradisian budayanya namun belum dapat menggapai kemajuan modern. Dari persoalan tersebut pada karya ini penyaji mencoba menawarkan sebuah solusi dengan menanamkan nilai Hamot, Hamong Hamemangkat.

Perkembangan teknologi yang mempengaruhi masuknya budaya barat ke Indonesia tidak bisa dihindari. Budaya Seni Tradisi tidak bisa hanya dijadikan sebagai arsip sejarah bangsa. Kecintaan Budaya Seni Tradisi harus ditularkan. Menjaga kekayaan Budaya Seni Tradisi bukan hanya tugas leluhur, namun tugas generasi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Cultural diversity of Traditional Art in Indonesia, is an identity of the nation and the wealth that must be maintained. Globalization, the development of the times and the advancement of the techmology is not an obstacle maintaining the identitt of this nation. Cepot is a representation of indigenous peoples who seek the cultural solution of their nation’s culture that is eroded by a pattern of part of society, which devides it into two group (traditional and modern society). It is not just about how this Culture born, nor is it at what this Nation is developing. Rather how we as Indonesia society, with the advsncement of technology can introduce Culture Art Tradition as a richness to the world. Cultural diversity of traditional art in Indonesia can be said in a critical state, floating, do not know the direction of purpose. Abandoning his cultural of tradition but can not achieve modern progress. Of these, in this masterpiece, creator trying to offer a solution by inculcating Hamot, Hamong, Hamemangkat.

Technological developments that influenced the entry of Western culture into Indonesia can not be avoid. Maintained Culture Art Tradition can not only be used as an archieve of the history of the nation. Love of Culture Art Tradition must be transmitted, preserving the richness of Culture Art Tradition is not only the task of ancestor, but the task of the upper generation of Indonesian society.

Diklat Tari Anjungan Jawa Timur merupakan Pusat Latihan Tari Jawa Timuran yang berada di Anjungan Jawa Timur Taman Mini “Indonesia Indah” Jakarta dan merupakan Binaan Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur di Jakarta.

Education and Dance training Program of East Java Pavilion is official East Javanese Traditional Dance Exercise Center, which is located in East Java Pavilion (Anjungan Jawa Timur) in Taman Mini Indonesia Indah. East Jakarta. The Education and Dance Training program is one of the major skill development target from Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur (Regional Liaison Agency of East Java Province) in Jakarta.

Judul Karya : “KUBUS”

Sinopsis: Kehidupan akan menjadi belenggu bagi jiwa yang terjajah, tapi batas itu tidak akan membelenggu jiwa yang merdeka.

Life will be chains for the unfree spirits, but the boundaries will never chains the free spirits.

Pendukung Karya:

Penari: Haris Sakadian, Arry Nugroho Jati, Afrilia Mustika Sari, Fifteen Sepputeri, Mutiara Fadillah H, Ni’mattul Winane M, Inggrit Novianti, Elita Damayanti Putri, Ndaru Dwi Rahayu, Firyal Mumtazah, Pradhita Dinar Anggini, Ayu Irviani, Syifa Novitasari, Elia Yunita Sari.

Pemusik:

Bagus Bagaskoro WM, Ndaru Adi Nalang P, Bayu Asmoro, Dwi Selvi Indrawati, Asep Susanto, Tutuko Aji, Nang Kris Utomo, Mahmud Nabi’ul Ashar, Heru Purwoko.

Aditiar Anggit Wicaksono adalah pencetus munculnya Komunitas Temon Holic Holobis di Surakarta. Awal mula Aditiar berkesenian adalah sejak berusia 5 tahun, saat pertama kali mempelajari tari tradisi Jawa. Pada masa SD, SMP, dan SMK, Aditiar selalu diikutsertakan dalam kompetisi dan pertunjukkan tari tradisi. Karena kecintaannya pada seni tari dan juga keinginannya untuk lebih mendalami seni pertunjukkan, Aditiar bersekolah di SMK N 8 Surakarta. Saat ini, Aditiar merupakan mahasiswa semester 5 di Institut Seni Indonesia, Surakarta.

Aktivitas Komunitas Temon Holic ini berawal dari pengalaman Aditiar menyaksikan kegiatan Komunitas Goyang Ubur-Ubur di Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari, di acara hajat nikah di wilayah Boyolali, juga di acara ujian musik Melayu di SMK N 8 Surakarta. Aditiar merespon kegiatan dari beberapa pertunjukkan tersebut karena menurutnya menarik untuk dipelajari dan dikembangkan.

Hasil dari pengamatannya kemudian diramu dan diproses dengan pengalaman gerak tari yang pernah dipelajari Aditiar kemudian diikutkan dalam kompetisi-kompetisi Komunitas Temon Holic. Ternyata karya Aditiar bisa diterima oleh masyarakat Temon Holic dan bahkan sering mendapatkan juara dalam kompetisi. Aditiar pun sempat menjadi juri dalam kompetisi pertunjukkan dan joget dangdut khusus Temon Holic.

Keberhasilannya mendorong Aditiar membentuk sebuah kelompok Komunitas Temon Holic dengan nama Holobis. Holobis merupakan wadah bagi orang-orang yang memiliki kepentingan, hasrat, dan kemauan untuk berekspresi dalam bentuk gerak melalui terhadap lagu bergenre koplo, campursari, atau musik lain yang di dalamnya memiliki elemen aransemen yang sarat akan suara kendang, ketipung, maupun tabla yang berirama menghentak. Irama ini dapat diikuti gerak yang beralasan unik, inovatif, menarik untuk ditirukan, dan mampu memberikan hiburan, kesenangan, dan kegembiraan bagi leader (pemimpin tari) maupun kelompok penirunya.

Aditiar Anggit Wicaksono is the originator of Temon Holic Holobis Community in Surakarta. Aditiar started art at the age of 5 years, when he first learned Javanese traditional dance. In elementary, junior and vocational high schools, Aditiar had always been included in traditional dance competitions and performances. Due to his love of dance and his desire to deepen the art of performance, Aditiar attended SMK N 8 Surakarta (a state vocational school that centered around dance and performance art). Currently, Aditiar is a 5th semester student at the Indonesian Art Institute, Surakarta.

Temon Holic Community Activity started from Aditiar’s experience in watching the activity of Goyang Ubur-Ubur Community at Taman Hiburan Rakyat Sriwedari (THR Sriwedari; Sriwedari Public Entertainment Park), at the wedding ceremony in Boyolali area, also in Malay music test event at SMK N 8 Surakarta. Aditiar responded to the activities of some of these shows because he thought it interesting to learn and develop.

The results of Aditiar’s observations were then mixed and processed with his dancing experience and then included in the Temon Holic Community competitions. It turns out Aditiar works can be accepted by the Temon Holic Community and often got trophies in the competition. Aditiar also held a place as jury in the special dance and performance of Temon Holic.

Aditiar’s success encouraged himself to form a Temon Holic Community group in Solo called Holobis. Holobis is a place for people who have interests, passions, and the will to express in the form of motion through the song genre koplo, campursari, or other music in which has the arrangement laden with drums, ketipung, and tabla rhythmic sounding. This rhythm can be followed by unique, innovative, exciting motion to be mimicked, and capable of providing entertainment, fun and joy to the leader the dance and his group.

Flying Balloons Puppet, Yogyakarta

Flying Balloons Puppet adalah grup teater boneka yang dibentuk pada Januari 2015 oleh Rangga Dwi Apriadinnur. Pertunjukan teater boneka pertama yang dipentaskan adalah Hadiah Kecil, merupakan hasil dari kelas laboratorium keaktoran yang diambil Rangga di Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Semenjak itu, kami telah menghasilkan tiga pementasan tunggal dan juga beberapa pentas kolaborasi dengan seniman multidisiplin. Tahun 2017, kami terpilih sebagai salah satu penyaji di Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2017 dan mementaskan NATUH di bulan Maret 2018. Saat ini kami tengah mempersiapkan karya tunggal kami yang akan dipentaskan di SIPA 2018. Karya ini juga akan dipentaskan Pesta Boneka #6 dengan berkolaborasi dengan seniman Australia Gwen Knox.

Flying Balloons Puppet is a puppet theatre group formed on January 2015 by Rangga Dwi Apriadinnur. The first puppet theatre performed by Flying Balloons Puppet entitled “Hadiah Kecil”, which was a result from actor laboratory class Rangga took during his study in Theatre, Indonesian Institute of Art, Yogayakarta. Since then, the group has produced three solo performance and several collaboration pieces with multidisciplinary artist. In 2017, Flying Balloons Puppet selected as one of performer in Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2017 and performed “NATUH” on March 2018. Flying Balloons Puppet currently working on its solo performance which will be perform in SIPA 2018. This piece also will be perform in Pesta Boneka #6 in collaboration with Australian artist, Gwen Knox.

Judul Karya: “Sori Dan Lembuna”

Sori dan Lembuna bercerita tentang pertemanan dua makhluk yang berbeda, antara manusia dan siluman. Sori adalah seorang gadis yang aktif. Sori sering menghabiskan waktunya untuk membersihkan sungai dari sampah-sampah yang membuat sungai terlihat kotor dan kumuh. Dia hidup di sebuah desa di mana sungai adalah sumber kehidupan bagi orang – orangnya. Suatu hari Sori melihat seekor ular yang terperangkap oleh kantung plastik. Sori bingung dan sedikit terkejut, ia berusaha membantu ular itu untuk kembali bisa berenang dan kembali ke rumahnya.

Setelah kejadian itu, Sori memiliki pertemanan tak terduga dengan sesosok makhluk yang memiliki tengkorak kerbau di kepalanya dan wajah yg bersisik. Tanpa mereka sadari, ada mahluk jahat dari tumpukan sampah yang datang untuk menghancurkan tempat tinggal Lembuna. Apakah perjuangan Sori dan Lembuna mengalahkan mahluk sampah tersebut berhasil?

Sori and Lembuna is a story about friendship between two creature, a human and spirits. Sori is an active girl who spend her time cleaning up the river from trash and plastic. She lives in a village where river is the heart of the lives of its people. One day, Sori see a snakes trap in a plastic. She confused and shocked, she tries to help the snake so that it can swim free and return to its house.

After the incident, Sori have an unusual friendship with a creature that has a skull of bull in his head and his face cover with scales. Without they even realize, there is an evil creatures from the giant pile of trash and plastics try to destroy Lembuna’s home. Can Sori and Lembuna defeat the monster?

Pendukung Karya:

Rangga Dwi Apriadinnur, Jefri Mugiono, Khoirul Anwar, Yunita Nursafitri, Meyda Bestari, Lutvan Hawari

 

 

Judul Karya : “RAI GEDHEK”

Tarian Rai Gedhek melambangkan insan manusia yang kehilangan naluri hati yang positif, serakah akan hak yang bukan miliknya  seperti para koruptor, penjarah kekayaan bumi pertiwi dan segala orang yang tidak lagi mengenal nilai-nilai kemanusiaan.

This dance symbolizes the human beings who have lost their positives heart instinct, are greedy foreverything that doesnt belong to them like a corruptor, looter of the motherland and anyone who no longer recognizes the value of humanity.

Nama Pendukung :

Heri Lentho, Dian Nova, Rizza Ahmad, Joko Susilo, Alfian, Karvian Vega, Yudhis, Yatimin, Moch Maskur, Moch Maskur, Catur Fredi, M. Pungki, Eko Puter, Nodia Indra, Gita Rina, Fatah Hidayat.

Komunitas Seni Jati Swara

Komunitas Seni JatiSwara dibentuk oleh sejumlah pekerja seni diantaranya sutradara, penulis naskah, koreografer,  komposer, musisi, penari, kritikus seni, dan pekerja seni pertunjukan untuk bersama-sama dalam kerja kreatif guna menebarkan kesejatian seni budaya Jawa Timur untuk mengkayaan khasanah budaya Indonesia.

JatiSwara sebuah akronim dari Jawa Timur yang bersuara melalui ekspresi kreatif seni untuk memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan kebaharuan seni pertunjukan dan menyebarkan kekayaan seni budaya Indonesia.

Visi Komunitas Seni JatiSwara menebarkan seni untuk memanusiakan manusia dengan suara seni, keinderaan manusia disejatikan kembali ruhnya, agar kesantunan tindakannya dibimbing swara sujatinya.

Art Community JatiSwara formed by a number of artists including directors, script writers, choreographers, composers, musicians, dancers, art critic, and workers performing arts to come together in a creative work in order to spread the culture of art authenticity East Java Indonesia mengkayaan cultural treasures.

JatiSwara an acronym from East Java who voiced through creative expression of art to preserve the freedom of thought and expression, respect for difference and diversity, and fostering the performing arts kebaharuan and spread the wealth of art and culture of Indonesia.

Art Community Vision JatiSwara spread to humanize art with sound art, human Heavens disejatikan back his spirit, so that his actions are guided swara sujatinya politeness.

STUDIO TAKSU

PROFILE TAKSU

Tentang Studio TaKsu

Studio TaKsu adalah sebuah kelompok atau komunitas yang berdiri sejak tahun 1995 dan didirikan oleh Busi S. Susilo (alm), Eko Supendi, Hengky S. Rivai dan Djarot B. Darsono.

Keberadaannya hanya berdasarkan pada rasa dan keinginan bersama untuk selalu mengadakan proses (kesenian). Dalam hal ini adalah kehidupan seni pertunjukan yang disikapi secara professional.

Studio TaKsu dengan komunitasnya mencoba untuk selalu menekankan, mengutamakan dan menanamkan perasaan yang selalu merasa kurang dan selalu gelisah untuk berkeinginan menjadi cerdas, kritis dan dinamis dalam menangkap situasi perkembangan lingkungan manusia sebagai stimulasi awal untuk berkreasi secara positif dan maksimal sesuai dengan bidangnya.

Selain itu penyikapan tersebut adalah juga sebagai stimulasi untuk membuat, membentuk dan membangun format pertunjukan yang diyakini mampu pula menciptakan alam pembelajaran, minimum bagi segenap pendukungnya.

Mengapa TaKsu??

Nama tersebut muncul karena sebuah pemendekan dari kata TAri, geraK, SUara yang kemudian dimaknai sebagai sebuah format atau konsep berekspresi. Kebetulan aksen konsonan pelafalannya sama dengan taksu dalam bahasa Bali yang arti dasarnya adalah aura atau kekuatan yang menyertai seorang di waktu tampil di tempat-tempat tertentu (panggung, podium, mimbar dan sebagainya).

About Studio TaKsu

Studio TaKsu is a group or community that was founded in 1995 by Busi S. Susilo (late), Eko Supendi, Hengky S. Rivai and Djarot B. Darsono.

Its existence is only based on the sense and desire in common to always hold the process (art). In this case is the life of the performing arts that is addressed professionally.

Studio TaKsu with its community tries to always emphasize, prioritize and instill feelings that always feel less and always restless to desire to be smart, critical and dynamic in capturing the human environment development situation as initial stimulation to create positively and maximally according to the field.

In addition, that attitude is also as a stimulation to create, shape and build the format of the show that is believed also able to create the nature of learning, minimally for all supporters.

Why TaKsu ??

The name appears because a shortening of the word TAri (dance), geraK (move), SUara (sound) which later interpreted as a format or concept of expression. Accidentally the accent of consonant pronunciation is similar to taksu in Balinese language that has the basic meaning the aura or the power that accompanies a person at times performing in certain places (stage, podium, pulpit and so on).

NAMA-NAMA PENDUKUNG

Koreografer                 : Djarot Budi Darsono

Penari                          : Yashinta Desy Nataliawati, Fajar Prastiani, Fitria Trisna Murti, Laras Wiswalendya, Yudha Rena Mahanani, Sri Hastuti, Putri Novalita, Ayun Anindita Setya Wulan, Indriana Arninda Dewi

Artistik                        : Ali Maksum

Musik Ilustrasi            : Sigit Pratama

JUDUL DAN SINOPSIS SAJIAN

“Free Of The Bridle”

            Tari Bedhayan “Free Of The Bridle” adalah sebagai garapan tari yang disusun dari sebuag metafora perjalanan tubuh yang bermigrasi mengembara mengemban tugas untuk melihat, berpikir, menghargai keberadaan ruang kecil lain yang dengan sengaja atau tidak sengaja selalu ada dalam satu ruangan besar secara bersamaan saat ini. Sekaligus sebagai pernyataan bagaimana tiap individu menyikapi hak dan asasinya dengan pikiran, imaginasi yang sangat personal. Tari Bedhoyo sudah ada sejak sekian ratus tahun yang lalu dan Bedhayan “Free Of The Bridle” terinspirasi dari tari klasik tersebut.

            In this dance composition titeled Bedhayan “Free Of The Bridle”, the choreographer is expressing the metaphorical journey of migrating wandering bodies pursuying the task of seeing, thinking, appreciating the existence of a small space, concrete and figuratively, that intentionally or unintentionally will influence and always is part of a much bigger space. At the same time is expresses how each individual responds to his rights and appropriateness with a very personal, imaginative mind. The traditional Bedhoyo dance is rooted in hundreds of years of history and the dance composition Bedhayan “Free of The Bridle” was inspirated by this classical dance.

 

Judul Karya: Touching Unknown People. Karya ini digarap koreografer Korea Selatan, Park Na Hoon, dan Ayo Sunaryo, Indonesia. Untuk menggarap karya ini diawali dengan workshop mengenai teknik-teknik koreografi untuk 30 mahawiswa Departemen Pendidikan Seni Tari UPI, dengan instrukturnya Park Nahoon dari Korea Selatan.  Lalu dipilih 10 penari untuk karya kolaborasi ini yang digarap dari tanggal 12 s.d. 19 Oktober 2017 di Bandung.

Touching Unknown People is a collaborative work created by Park Na Hoon (South Korea)  and Ayo Sunaryo (Indonesia). Park Na Hoon initially conducted a workshop regarding choreography techniques for 30 students in Department of Dance Education at UPI. Then, Na Hoon and Sunaryo worked together with ten students using hammocks, from 12 to 19 October 2017.

  •  Durasi 30 menit
  • Koreografer : Park Na Hoon (Korea Selatan)
  • Penari:
    1. SATRIA ADHIYASA
    2. SUPRIYADI
    3. GAUNG RIZKI GUSTIAJI,
    4. ULFA YULIA
    5. ISMAIL MULADI
    6. ROMARIO PATOGIAN
    7. NOVIAN MUSTOFA
    8. ARBI NURALAMSYAH
    9. AKBAR NURZAMAN
    10. RISMAN BIN USMAN

Pimpinan produksi : Ayo Sunaryo

Sekretaris: Viranie Dwi Monikawatie 

Profil Koreogarfer

Profil Park Na Hoon

Koreografer Park Na Hoon menerima penghargaan koreografer terbaik pada tahun 2004 ‘Critic’s Choice of Young Choreographer’. Koreografer telah menerima banyak penghargaan lainnya, termasuk penghargaan perak di Donga Competition, dan penerima dana kinerja kreatif dari berbagai lembaga pemerintah dan yayasan. Dia bekerja untuk menciptakan estetika panggung asli dalam proyek bersama dengan seni kontemporer Korea. Baru-baru ini dia diundang ke Brasil untuk festival minggu tari kontemporer Korea, dan dianugerahi dana kinerja kreatif. Dia dihargai sebagai koreografer inovatif yang aktif bekerja di rumah dan di luar negeri.
Ia mengeksplorasi substansi kehidupan orang-orang, makna tersembunyi, dan melanjutkan perjalanan artistik dalam pencarian dari kebenaran. Park Na Hoon Company terpilih sebagai perusahaan tari baru dan kuat oleh Dewan Seni Korea pada tahun 2003 yang memberi kesempatan untuk belajar dan berlatih di luar negeri dan Park Na Hoon terpilih sebagai koreografer muda dan terkemuka oleh para kritikus pada tahun 2004 yang memberinya hadiah koreografer terbaik. Pada tahun 2007, terpilih sebagai bagian dari keunggulan karya Three airs dalam pertunjukan ketiganya di Pasar Seni pertunjukan seoul (PAMS) baru-baru ini, serta Cina, Jepang, Singapura, Indonesia, Thailand, Park No Hoon Company diundang dari Brasil saofaulo (2009) dan Rusia S.petersberg (2013) juga Park Na Hoon Company memilih Proyek Koneksi Korea-Finlandia (2012), Korea-Denmark Connection (2015) yang proyek pertukaran internasional dengan Helsingki di Finlandia, Denmark, dan juga melakukan proyek residensi pertukaran dengan Berlin , Italia, San Francisco 2014.

A choreographer Park Na Hoon received a best choreographer award at the 2004 ‘Critic’s Choice of Young Choreographer’. The choreographer has received many other awards, including silver award at Donga Competition, and was selected as an up-and-coming artist, recipient of creative performance funds from various government agencies and foundations. He works on creating an original stage aesthetics in joint project with Korean contemporary art. Recently he was invited to Brazil for the Korean contemporary dance week festival, and awarded a creative performance fund. He is valued as an innovative choreographer actively working at both home and abroad.

                He explores substance of people’s life, its hidden meanings, and continues an artistic journey in search oh truth. Park Na Hoon company was selected as a new and powerful dance company by Arts Council Korea in 2003 thatgave an opportunity to study and train in overseas and Park Na Hoon selected as an young and distinguished choreographer by critics in 2004 that granted him the prize of the best choreographer. In 2007, selected as a piece of work superiority Three airs in the 3rd performing Arts Market in seoul (PAMS) recently, as well as china, japan, Singapore, Indonesia, Thailand, Park No Hoon company invited from Brazil saofaulo (2009) and Russia S.petersberg (2013) also Park Na Hoon company chosen The Project of Korea-Finland Connection (2012), Korea-Denmark Connection (2015) that international exchange project with Helsingki in Finland, Denmark, and also performed exchange residency project with Berlin,Italy, San fransisco 2014.

 

PROFIL

Orkes suling bambu SMP Negeri 1 Lamaknen sudah pernah dirintis oleh Kepala Sekolah sebelumnya pada 2012, namun sayangnya orkes suling bambu dalam kurun waktu tersebut tidak berkembang, bahkan sempat hilang. Kemudian pada tahun 2015, munculah inisiatif dari Pelatih Suling Bambu, Fidelis Mali Bere, untuk mendatangkan maestro seni musik suling bambu dari wilayah Manlea untuk menghidupkan kembali orkes suling bambu yang sudah hilang itu.

Gema seruling bambu SMPN 1 Lamaknen semakin mempesona dan memikat hati para seniman Komunitas ISI Solo, sehingga Orkes Suling Bambu SMPN 1 Lamaknen diikutsertakan dalam Acara Spektakuler Pemecah Rekor Muri Pesona Likurai Festival Fulan Fehan pada tanggal 28 Oktober 2017 di Savana Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu.

Dengan prestasi yang ditoreh pada momen spektakuler tersebut, bukan berarti usaha dan perjuangan juga ikut selesai, melainkan justru mendorong untuk terus berbenah diri dan mencari jati diri untuk mendapatkan yang lebih dari sebelumnya. Usaha dan perjuangan itu membuahkan hasil sehingga pada 7 Mei 2018, terbentuklah identitas musik suling bambu dengan terbitnya Surat Keputusan Bupati Belu Tentang Penetapan Sanggar Kesenian Sekolah pada SD/MI dan SMP/MTs se-Kabupaten Belu, maka seni musik suling Bambu SMPN 1 Lamaknen berubah nama menjadi “SANGGAR SENI MUSIK TRADISIONAL SULING BAMBU DASARAI SMP NEGERI 1 LAMAKNEN”.

Lagu lagu yang dibawakan:

LAGU NASIONAL : Sorak Sorak Bergembira

LAGU DAERAH NUSA TENGGARA TIMUT : Bolelebo

LAGU DAERAH BELU : Oras Loro Malirin

LAGU DAERAH LAMAKNEN : Lolan Gol

SULING BAMBU DASARAI LAMAKNEN, BELU, ATAMBUA

PROFILE

The orkes suling bambu (bamboo flute orchestra) of SMP Negeri 1 Lamaknen (a junior high school in Lamaknen) had been pioneered by the previous school principal in 2012, but unfortunately the bamboo flute orchestra in that period did not develop, and even lost. Then in 2015, an initiative emerged from the Bamboo Flute Trainer, Fidelis Mali Bere, to bring the bamboo flute music maestro from the Manlea region to revive the lost bamboo flute orchestra.

The echoes of the SMPN 1 Lamaknen bamboo flute play were enchanting and captivating to the artists of the ISI Solo Community, so the Bamboo Flute Orchestra Lamaknen 1 Junior High School was included in the Spectacular Event Breaking Record of MURI (Museum Rekor Indonesia) Pesona Likurai Fulan Fehan Festival on October 28, 2017 in Savanna Fulan Fehan, Dirun Village, District Lamaknen, Belu Regency.

With the achievements recorded at this spectacular moment, it does not mean that efforts and struggles are also finished, but instead encourage to continue to improve themselves and seek identity to get better than before. The effort and struggle were fruitful so that on May 7, 2018, a bamboo flute music identity was formed with the publication of the Belu Regent Decree on the Establishment of School Arts Studio in SD/MI (elementary school) and SMP/MTs (junior high school) throughout Belu Regency, so the musical art of Bamboo Flute in Lamaknen Junior High School changed the name becomes “SANGGAR SENI MUSIK TRADISIONAL SULING BAMBU DASARAI SMP NEGERI 1 LAMAKNEN”.

Songs:

NATIONAL SONG: Sorak-sorak Bergembira

EAST NUSA TENGGARA REGIONAL SONG: Bolelebo

BELU REGIONAL SONG: Oras Loro Malirin

LAMAKNEN REGIONAL SONG: Gol Lolan