Luar Negeri

Delegasi Luar Negeri SIPA 2018

 

Profil

LeineRoebana, grup tari kontemporer yang dikoreograferi oleh Andrea Leine dan Harijono Roebana, 25 tahun menduduki posisi penting pada tari Belanda dan internasional. Para koreografer mengembangkan tari idiom pribadi yang unik dari pendekatan baru untuk simetri, ritme, dan komposisi. Interaksi antara tari dan musik, bekerjasama dengan musisi dan komposer, adalah inti dari karya LeineRoebana. Selera musik mereka mulai dari Renaissance hingga komposer kontemporer dan mencerminkan keaslian pencarian mereka.

Jauh melampaui batas telah menuai kekaguman. Smell of Bliss dengan pemain biola Liza Ferschtman, Ghost Track oleh komposer Indonesia Iwan Gunawan dengan grup gamelannya Kyai Fatahillah dan Theriak dengan pemain harpis Lavinia Meijer adalah beberapa contoh yang mengesankan dari 25 tahun terakhir. LeineRoebana menang didalam dan luar negeri dan bermain di Eropa, Amerika, Kanada, Rusia, Afrika, dan Indonesia. Musim depan akan ada grup, selain teater Belanda, Singapura, Jerman, dan Polandia

profile

LeineRoebana, the contemporary dance company of choreographers Andrea Leine and Harijono Roebana, 25 years occupies an important place in the Dutch and international dance. The choreographers developed a unique personal dance idiom from a new approach to symmetry, rhythm and composition. The interaction between dance and music, in collaboration with musicians and composers, is the core of the work of LeineRoebana. Their musical tastes ranging from Renaissance to contemporary composers and reflects their search for authenticity.

Far beyond the border has harvested the group admiration. Smell of Bliss with violinist Liza Ferschtman, Ghost Track by Indonesian composer Iwan Gunawan and his gamelan ensemble Kyai Fatahillah and Theriak with harpist Lavinia Meijer are some memorable examples from the past 25 years. LeineRoebana won at home and abroad and played in Europe, the United States, Canada, Russia, Africa and Indonesia. Next season does the company, besides the Dutch theaters, including Singapore, Germany and Poland.

Judul Karya

“LIGHT”

LIGHT adalah puisi tari yang berkelok-kelok, yang dilakukan oleh sekelompok penari, penyanyi, dan musisi yang beraneka ragam, semua bernyanyi, menari, dan membuat musik. Penampilan ini menunjukkan dunia di mana perbedaan budaya bukanlah suatu rintangan, tetapi lebih pada kondisi untuk kreasi dan komunikasi. Dialog dari berbagai perbedaan budaya, bahasa, bentuk seni dan suasana hati menciptakan pusaran ide-ide baru. Komposisi baru Iwan Gunawan dan tarian LeineRoebana menciptakan struktur yang sangat menarik di mana bahasa yang berbeda dan unsur-unsur beraneka ragam budaya Asia dan Eropa dengan mudah terjalin.

“LIGHT”

LIGHT is a meandering dance-poem, performed by a heterogeneous group of dancers, singers and musicians all singing, dancing and making music. It shows a world where cultural differences are not an obstacle, but rather a condition for creation and communication. The dialogue of different cultures, languages, art forms and moods created a maelstrom of new ideas. The new composition of Iwan Gunawan and dance by LeineRoebana create an irresistible structure in which different languages and heterogeneous elements of Asian and European culture effortlessly intertwine.

Profil

Didirakan pada tahun 1992, Capitol University Dance Troupe telah sungguh-sungguh  menyatu, menari, dan menjadi tim terbaik di Region X.

Penampilannya diluar Capitol University adalah di Iligan Capitol College, kota Iligan di tahun 1992. penampilannya di atas kapal,  Negros Navigation- Shipping Lines, telah ditunjuk sebagai penampil utama pada Region X Department of Tourism untuk WOW Philippines. Setelah mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak dan banyaknya pengalaman belajar dalam beberapa pertunjukan bersama dengan University of the East Dance Troupe dan Quezon City School of Ballet di “Sayaw Pinoy,” Capitol University dance troupe muncul sebagai yang terbaik di wilayah ini.

Awalnya, penampilan CU dance troupe hanya terbatas pada tari rakyat Filipina. Sekarang, penampilannya telah diperkaya dengan tarian kontemporer yang sebagian besar dikoreograferi oleh moderator CU Dance Troupe, Mr. Charlo B. Yare, dan CU dance troupe sendiri.

Perjalanan mereka penuh dengan ajakan tampil yang mengharuskan mereka untuk menari di luar CU untuk menampilkan presentasi budaya dalam acara-acara seperti kongres lokal, nasional dan internasional di Kota Cagayan de Oro, perusahaan, festival dan lain-lain.

Melalui dukungan berkelanjutan dari Administrasi CU, komitmen Moderator, dengan dedikasi yang tinggi dari 25 anggota CU dance troupe terlatih yang merupakan mahasiswa dengan beasiswa penuh di bawah Program Beasiswa Budaya CU, CU Dance Troupe berdiri sebagai penggerak utama dalam promosi tidak hanya budaya dan seni, tetapi juga perdamaian untuk Mindanao.

2018 Variety Show pertama untuk anak-anak down syndrome berjudul “A Summers Notion, Tetap Beraksi ”

2017 berpartisipasi pada Asean Landmark Lighting Nasional di Dv Soria, Kota Cagayan de Oro, Mindanao, Filipina.

2017 konser tari berjudul “4th Dimension” di Kalilangan, Bukidnon. Mindanao, Filipina.

2016 konser tari berjudul “Stallions Around the World” Di Talisayan, Misamis Oriental, Mindanao, Filipina.

Profile

From its humble founding and beginning in 1992, the CU Dance Troupe has literally danced a long way to become one if not the best performing group in Region X.

Its performance outside CU was in Iligan Capitol College, Iligan City in 1992. This was followed by on-board Negros Navigation- Shipping Lines performances having been designated as the official performing artist of Region X Department of Tourism for WOW Philippines. After the tutelage from many sides and learning experiences in shared performances with the University of the East Dance Troupe and the Quezon City School of Ballet in “Sayaw Pinoy,” the Capitol University Dance troupe has emerged as the best in the Region.

Initially, their repertoire was confined to the Philippine Folk Dances. Today, the same repertoire has been enriched with contemporary dances most of which are originally choreographed by the Moderator of the CU Dance Troupe

Mr. Charlo B. Yare and the CU Dance Troupe themselves.

Their itinerary is full with performance invitation outside of CU to provide cultural presentation in events such as local, national and international conventions in Cagayan de Oro City, company functions, festivals and others.

Through the sustained support of the CU Administration, the commitment of the Moderator, with the dedication of the highly trained 25 CU Dance Troupe members who are full scholars under the CU Cultural Scholarship Program, the CU Dance Troupe stands as the prime mover in the promotion not only of culture and the arts, but also peace for Mindanao.

2018      1st Variety show for Down Syndrome children entitles “A

                Summers Notion, to Stay in Motion”

2017       Participated National Asean Landmark Lighting at Dv soria,

                Cagayan de Oro City, Mindanao, Philippines.

2017      Dance Concert Entitled “4th Dimension” at Kalilangan,

                Bukidnon. Mindanao, Philippines.

2016       Dance Concert Entitled “ Stallions Around the World”

                 At Talisayan, Misamis Oriental, Mindanao, Philippines.

Judul Karya

Kalinaw Mindanaw atau Peace Mindanao adalah bagian dari tari kontemporer yang menggambarkan suatu ikatan cinta, perdamaian dan persatuan yang kuat di antara tiga prajurit Filipina yang dikerahkan di zona perang selama Pengepungan Marawi pada bulan Juni 2017. Tiga prajurit yang baru saja bertemu di medan perang berasal dari budaya dan keyakinan yang berbeda-beda: seorang Lumad, kristiani dan muslim, masing-masing mewakili kesatuan dalam keragaman. Penampilan ini menunjukkan bagaimana ketiga prajurit itu dengan murah hati membantu satu sama lain di tengah-tengah teror perang. Mereka berjuang, menderita kelaparan, kehausan bahkan terjaga dari tidur malam. Mereka berada di medang perang selama berminggu-minggu. dentuman yang mereka alami sama dengan imajinasi mereka, tetapi cinta, persaudaraan, persatuan, dan keinginan untuk berdamai adalah dasar bersama yang kuat di antara mereka yang mengikat mereka lebih dekat satu sama lain dan telah membuat mereka lebih berani. Sebagai bagian dari misi mereka, para prajurit gagah berani menyerang GROUND ZERO pada suatu malam namun sayangnya, tentara Kristen tertembak peluru.Terlepas dari banyaknya ancaman, persahabatan dan solidaritas di antara mereka, keberanian dan keyakinan pun semakin kuat sehingga mereka tidak meninggalkan tentara Kristen yang terluka sendirian. Mereka membawanya dengan melewati zona perang yang luas tanpa menghiraukan dentuman senjata, meriam guntur dan peluru hingga mereka sampai di rumah sakit. Namun prajurit Kristen tidak terselamatkan.

“Kalinaw Mindanaw” menggambarkan bagaimana orang-orang Mindanao, meskipun dengan keberagaman agama, berjuang untuk membantu satu sama lain tanpa pamrih, bahwa kita adalah satu pikiran, harapan dan aspirasi dalam pencapaian perdamaian!

“Kalinaw Mindanaw or Peace Mindanao”

Kalinaw Mindanaw or Peace Mindanao is a contemporary dance theater piece that depicts the strong bond of love, peace and unity among the three Filipino soldiers deployed at the war zone during the Marawi Siege in June 2017. The three soldiers who just met at the battle field come from different culture and faith: a Lumad , a Christian and a Muslim, respectively represent unity in diversity. The piece shows how the three soldiers generously and graciously helped one another amidst the terror of war. They struggled and suffered hunger, thirst and sleepless nights. They have been in the warzone for weeks and the tremor they experienced was beyond imagination but love, brotherhood, unity, and desire for peace were stronger common grounds among them that tied them closer to each other and have made them more courageous and valiant. As part of their mission, the valiant soldiers attacked GROUND ZERO one night and unfortunately, the Christian soldier got hit by a bullet. Despite the threats of being hit themselves, the friendship and solidarity among these men of valor and faith grew stronger as they never left the injured Christian soldier alone. They carried him through the vast war zone unmindful of the roaring guns, thundering cannons and astray bullets until they reached the hospital. The christian soldier did not make it though. “Kalinaw Mindanaw” depicts how Mindanaoans, despite diversity in religion, struggle to help one another selflessly believing that we are one in thoughts, hopes and aspiration and in the attainment of peace!

 

Profil

Filastine & Nova merupakan duo multimedia yang bekerja untuk meruntuhkan batas. Musik mereka mengadu produksi beat elektronik dengan lapisan suara yang padat, konkrit, synthesizer analog dan string. Dunia lain itulah tepat seperti apa yang mereka ingin ciptakan, menggunakan suara, video, desain, dan tarian untuk mengekspresikan kemungkinan visi yang sangat berbeda.

Filastine ditangani oleh komposer dan artis video berbasis di Barcelona, bernama Grey Filastine. Ia belajar perkusi dengan the coke-fueled carnival batucadas dari brazil dan mystical brotherhoods di Maroko. Salah satu tur membawanya ke Jakarta dimana ia bertemu dengan vokalis bernama Nova Ruth, yang bernyanyi dalam grup rap asal Indonesia, Twin Sista. Sumber musik Nova yang dalam, menambah suara Filastine.

Bersama-sama mereka menciptakan campuran yang unik dan tak kenal takut. Karya terakhir mereka, Abandon, adalah suatu rangkaian video yang memotret tarian-tarian emansipasi dari tempat kerja, difilmkan di lokasi tambang batu bara di Kalimantan hingga bilik-bilik kantor di Amerika.

Mereka telah mengunjungi 5 benua, tampil di beberapa festival seperti Sonar (ES), Downtown Cairo Arts (EG), Decibel (US), Les Vieilles Charrues (FR), Foreign Affairs (DE), Mona Foma (AU).

Profile

Filastine & Nova are a multimedia duo working to undermine borders. Their music collides electronic beat production with dense layers of voice, concréte sounds, analogue synths and strings. Another world is exactly what they aim to create, using sound, video, design, and dance to express a radically different vision of the possible.

Filastine is the handle of Barcelona-based composer and video artist Grey Filastine. He studied percussion with the coke-fueled carnival batucadas of Brazil and mystical brotherhoods in Morocco. One of those tours brought him to Jakarta where he met vocalist Nova Ruth, rhyming in Indonesia’s seminal rap group Twin Sista. Nova’s deep musical roots add much to Filastine’s sound.

Together they create unique and fearless interventions. Their latest effort, Abandon , is a video series profiling dances of emancipation from work, filmed in locations from coal mines in Borneo to office cubicles in America.

They’ve toured the five continents, appearing at festivals such as Sonar (ES), Downtown Cairo Arts (EG), Decibel (US), Les Vieilles Charrues (FR), Foreign Affairs (DE), Mona Foma (AU).

Judul Karya

Drapetomania adalah kolaborasi baru antara produser veteran Barcelona, Grey Filastine, dan vokalis neo-soul Indonesia, Nova Ruth. elektronik dan akustik, pop dan eksperimental, dari sumber musik untuk bass masa depan, Drapetomania adalah audio serangan terhadap xenophobia, menawarkan dunia polifonik dan tanpa batas.

Duo ini menciptakan Drapetomania dalam serangkaian studio musik improvisasi, dari kapal layar kayu di Samudra Hindia ke desa berdebu di Sahara, dan di barrios dari Brooklyn ke Barcelona. Mesin drum 808 yang ikonik dan synthesizer analog musik elektronik dihubungkan arus pendek oleh kelembaban tropis, dikaburkan oleh badai debu, dan kejenuhan hiruk-pikuk kota.

“Drapetomania”

Drapetomania is a new collaboration between Barcelona’s veteran producer Grey Filastine and Indonesian neo-soul vocalist Nova Ruth. Electronic and acoustic, pop and wildly experimental, from roots music to future bass, Drapetomania is an audio strike against xenophobia, proposing a borderless and polyphonic world.

The duo made Drapetomania in a series of improvised music studios, from a wooden sailing ship in the Indian Ocean to a dusty village in the Sahara, and in barrios from Brooklyn to Barcelona. The iconic 808 drum machine and analog synths of electronic music were short-circuited by tropical humidity, abraded by dust storms, and saturated with the cacophony of a dozen cities.

 

 

Profil

Diprakarsai pada 1974, CYGA, satu-satunya kelompok yang mengkhususkan diri dalam menyajikan tarian dan nyanyian budaya rakyat tradisional, telah mengirimkan generasi muda berbakat untuk mengadakan kunjungan ke berbagai tempat di seluruh dunia.

Pada tanggal 2 November 2013, Chinese Youth Goodwill Association secara resmi didirikan untuk mendapatkan kembali kehormatan sejarahnya untuk memperkuat energi pemuda dan memperkaya keragaman budaya Taiwan dan seluruh dunia.

CYGA diundang untuk berpartisipasi dalam World Folk art and Multiple Culture Festival, di Brisbane, Australia, awal Maret 2015. Bersama dengan kelompok-kelompok dari Jepang, Korea dan India, CYGA berbagi semangat suku asli Taiwan dan menyoroti karakteristik lokal Hakka melalui gerakan gaya yang indah dan koreografi panggungnya.

Chinese Youth Goodwill Association dengan bangga mempersembahkan tarian tradisional Tiongkok dan budaya rakyat Taiwan untuk lebih mengedepankan suasana budaya Taiwan / Cina klasik dan kontemporer dan untuk pertukaran budaya lebih lanjut dengan kelompok seni lainnya baik dari dalam maupun luar negeri.

Profile

Initiated in 1974, CYGA, the onlygroup, specialized in presenting traditional folk cultural dance and singing, has sent talented young generations to conduct goodwill visit to various places around the globe.

On November 2, 2013, Chinese Youth Goodwill Association was officially established to reclaim its historical honor to strengthen youth energy and enrich cultural diversity for Taiwan and rest of the world.

CYGA was invited to participate in World Folk art and Multiple Culture Festival, in Brisbane, Australia, early March, 2015.  Together with groups from Japan, Korea and India, CYGA shares Taiwanese aboriginal spirit and sheds light on Hakka local characteristics through beautiful stylish motions and stage choreography.

Chinese Youth Goodwill Association are proud to showcase some traditional Chinese dances and Taiwanese folk culture to better prevail classical and contemporary Taiwanese/ Chinese cultural scenes and to further cultural exchange with other artistic groups from both domestic and abroad.

Judul Karya

Flowing Formosan Flavor dari Taiwan untuk Solo

Program budaya untuk memperkaya keberagaman yang berorientasi seni pertunjukan, pementasan pertama yang mendedikasikan seni pertunjukan tradisional Cina, diikuti oleh kombinasi aksi-aksi indah dalam tarian klasik dan tarian rakyat, dan diakhiri dengan gerakan akrobatik yang terampil, bertujuan untuk menghibur SIPA 2018 dengan beragam dimensi kelincahan budaya dari kesenian Cina dari pertunjukan Taiwan.

Program ini terdiri dari 4 bagian:

  1. Teman dari jauh: menyambut teman-teman di Indonesia
  2. Festival membawa keberuntungan: akrobat seni rakyat
  3. Kaum wanita membawa keharuman: kelompok tari kuno anak-anak

Penerjunan mendatangkan kehebohan: penampilan diabolo

Flowing Formosan Flavor from Taiwan to Solo

The performing arts-oriented, pluralistic culture-enriched programme, first staging dedicate Chinese traditional performing arts, followed by a combination of splendid actions in classical dance and folk dance, and ending with skillful acrobatic movement, aims to entertain SIPA 2018 with diverse dimension of cultural liveliness of Chinese arts from Taiwan presentation.

The programme consists of four sections:

  1. Friends come afar: flagging to friends in Indonesia
  2. Festival comes fortune: folk art acrobatics
  3. Femininity comes fragrance: ancient lads group dance

Flipping comes flapping: diabolo performance

Profil

Tersentuh oleh keindahan musik Zimbabwe yang memikat, Supa Kalulu memainkan lagu-lagu daerah dengan marimba dan mbira. Dalam budaya suku Shona, mbira menampilkan pikiran yang damai dan semangat hidup yang kuat. Atas semangat ini, para pemain lintas budaya dari belahan utara, selatan, timur dan barat (Indonesia, Amerika Serikat, Tanzania, dan Australia) datang bersama-sama untuk menghasilkan ritme campuran dentuman yang saling berkaitan yang membawa penonton untuk bertepuk tangan.

Kelompok musik dengan 12 pemain ini menciptakan kebahagian sejati yang menarik, menghirup kehidupan baru ke dalam musik roh leluhur Zimbabwe dan seterusnya. Orkestra marimba polyrhythmic Supa Kalulu didukung oleh gitar elektrik, bass, dan drum kit, hosho, dibumbui dengan harmoni vokal yang menggembirakan.

dimanapun Supa kalulu bermain, roh-roh mendoakan, orang-orang berdansa dan kedamaian serta kepositifan menguasai. Satu cinta, semuanya!

Profile

Touched by the compelling beauty of Zimbabwean music, Supa Kalulu plays songs of the region on the marimba and mbira. In the Shona tribal culture, the mbira imparts a peaceful mind and a strong life force. In this spirit, the cross cultural mash-up of players from hemispheres north, south, east and west (Indonesia, United States, Tanzania and Australia) come together to produce an eruptive amalgam of interlocking rhythms that brings audiences to their feet.

This 12-piece ensemble makes pure joy contagious, breathing new life into the ancestral spirit music of Zimbabwe and beyond.  Supa Kalulu’s funky-as-funk polyrhythmic marimba orchestra is backed by electric guitar, bass and drum kit, hosho, spiced just right by a horn section and uplifting vocal harmonies.

Wherever Supa Kalulu plays, the Spirits come blessing, the people come dancing, and peace and positivity prevail.  One love, everybody!

 

Judul Karya

  1. “TODZUNGAIRA” – “Kami menderita” merupakan musik tradiosional mbira yang dimainkan pada upacara-upacara ibadah kepada leluhur untuk mengakhiri penderitaan
  2. “ZVICHAPERA” – “ini akan terjadi” merupakan aransemen kontemporer yang membangkitkan jiwa
  3. “NYAMA MUSANGO” – “Daging di dalam Hutan” adalah sebuah lagu mbira yang berusia lebih dari 1000 tahun dimainkan dalam upacara. Yang berarti: jangan hanya duduk ketika para perempuan sedang menyapu, keluarlah dan cari sesuatu untuk hidup anda.
  4. VANORAPA” – “Para Tetua” adalah lagu tentang kekuatan penyembuhan para sesepuh dan kekuatan spiritual Shona tradisional.
  5. “BANGIDZA” – merupakan salah satu lagu tertua di repertoir Shona mbira yang dimainkan di upacara-upacara. Judulnya berarti “tunjukkan, tunjukkan, tunjukkan”
  6. “USA CHEME” – ini adalah lagu pengantar tidur tradisional Shona yang dinyanyikan oleh Ibu untuk menenangkan anaknya yang menangis agar tertidur atau menghibur mereka ketika mereka sedang sakit. Tetapi, lagu pengantar tidur yang melankolis ini juga memiliki fungsi lain. Para Ibu menyanyikan lagu ini ketika mereka sedang sangat tidak akan sesuatu. Mereka mencoba untuk menenangkan kesedihan dan air mata mereka.

Perfomance

  1. “TODZUNGAIRA” – “We are Suffering” a traditional Mbira piece played in ceremonies praying to the ancestors for an end to suffering.
  2. “ZVICHAPERA” – “It will come to pass” A soul-stirring, contemporary arrangement
  3. “NYAMA MUSANGO” – “Meat in the Forest” is a an mbira song that is over 1,000 years old, played in ceremonies. Meaning: Don’t sit around when women are sweeping…go out and make something of your life.
  4. VANORAPA” – “The Elders” is a song about the healing power of the elders and the power of traditional Shona spirituality.
  5. “BANGIDZA” – Bangidza is one of the oldest songs of the Shona mbira repertoire played in ceremonies. The title means ‘show, indicate, point out’.
  6. “USA CHEME” – This is a traditional Shona lullaby sung by mothers to put crying children to sleep or comfort them when they are sick. But this plaintive melancholic lullaby has a double function, too. Mothers sing this lullaby when they were deeply unhappy about something. It was always their tears and sorrows they were also trying to soothe.

 

Stefano Fardeli, lahir di Italia pada 28 Oktober 1983, merupakan seorang penari, koreografer dan guru yang mendapatkan gelarnya dari M.A.S Academy dibawah arahan artistik Susanna Beltrami di Milan. Ia kemudian melanjutkan studinya di pusat koreografi lain di Eropa. Diantara kolaborasi-kolaborasi internasionalnya, seperti the Berlin Opera, The Place, Royal Filand Opera, English National Opera, dll, semua produksinya didukung oleh Ass. Cult. Compagnia Excursus Onlus yang didukung oleh Pemerintah Italia.

Pada 2014, ia memulai debutnya di layar lebar sebagai peran utama pada film L’Estate Sta Finendo. Sebagai protagonis di film-film pendek, bekerja sebagai model, penari untuk televisi, iklan, dan video klip internasional di Amerika dan Eropa.

Penciptaan Namu telah ditunjuk pertama oleh Gdansk International Festival 2015 dan ditarikan oleh 20 penari di Polandia. Pada 2016 ia menciptakan Links yang ditugaskan oleh Attakkalari Center of Movements Arts di Bangalore dan ditarikan oleh 45 penari selama turnamen India dan Asing dalam kerjasamanya dengan koreografer Norwegia Tone Martine Kittelsen. Dan 2017 merupakan tahun pembuatan Hugs in Space untuk National Gallery of Modern Art of Bengaluru dan “98288” keduanya ditarikan oleh 60 penari.

Profile

Stefano Fardelli, born in italy on the October 28th 1983, is a dancer, choreographer and teacher gets his degree at M.A.S. Academy under Susanna Beltrami’s artistic direction in Milan; he then continues his studies in other choreographic centers in Europe. Among his international collaborations the Berlin Opera, The Place, Royal Filand Opera, English National Opera, etc. All his productions are supported by Ass. Cult. Compagnia Excursus Onlus which is supported by Italian Government.

In 2014 he debuts on the big screen in a leading role in L’Estate Sta Finendo movie. Protagonist in short films, works as a model, dancer for television, commercials and international videoclips in USA and Europe.

The creation of Namu has been commissioned first by the Gdansk International Festival 2015 and danced by 20 dancers in Poland. In the 2016 he creates Links that is commissioned by Attakkalari Centre of Movements Arts in Bangalore and danced by 45 dancers during an indian tournèe and Foreigners in collaboration with the norwegian choreographer Tone Martine Kittelsen. And 2017 is the year of the creation Hugs in Space for the National Gallery of Modern Art of Bengaluru and “98288” both pieces danced by 60 dancers.

Judul Karya

“Namu”

Sebuah perjalanan ke Burma menginspirasi sang koreografer yang menguji makna dan hubungan antara kerohanian dan adat di seluruh gerakan. Atmosfer dan citra karya ini dikondisikan oleh tempat-tempat yang jauh, oleh gaya hidup masyarakatnya dan oleh visi tanah yang hampir tidak terkontaminasi, dibandingkan dengan tontonan masyarakat barat. Pertemuan dengan para Biksu dan mahasiswa seni bela diri, studi tentang latihan dan upacara mereka adalah dasar dari koreografi. Penampilan ini dimulai dengan penari berdiri di atas panggung, yang permukaannya tertutup oleh tepung dan tanah, menciptakan mandala dengan pola konsentris yang mengingatkan geometri suci. Ketika bel mulai dimainkan, penari memulai tariannya, seperti biksu, yang setelah terdengar bunyi lonceng, memulai upacara mereka, ditemani oleh musik asli Francesco Ziello. Sambil menerobos, tarian itu mendapatkan dinamikanya di antara cahaya, kekuatan dan kesederhanaan, memecah pola-pola di tanah.

“NAMU”

A passage to Burma inspires the choreographer, who experiments the meaning and connection between  spirituality and rite throughout movement. The atmosphere and the imagery of the piece are conditioned by those faraway places, by the lifestyle of its people and by the vision of an almost uncontaminated land, compared to the western society of the spectacle. The encounters with the Buddhist monks and the martial arts students, the study of their practise and ceremonies are the foundation of the choreography. The piece begins with the dancer standing on the stage, whose surface is totally covered by flour and topsoils, creating a mandala with concentric patterns  that recall sacred geometries. When the bell start to play the dancer begins his dance, as the monks after the sound of the bell make their rites, accompanied by the Francesco Ziello original music. While breaking free, the dance finds its dynamics between lightness, power and simplicity, breaking the patterns on the ground.