Delegasi Dalam Negeri

1. Eko Supriyanto

Eko Supriyanto adalah pendiri dan pengarah artistik untuk EkosDance Company dan Solo Dance Studio di Surakarta, Indonesia. Eko adalah penari dan koreografer Indonesia terdepan di antara generasinya.

Berlatih tarian tradisi Jawa dan pencak silat sejak berumur tujuh tahun, karir pertunjukkan Eko membentang di seluruh Indonesia, mencapai Eropa, Amerika, dan Asia Pasifik. Eko menyandang gelar Doktor Ilmu Seni Pertunjukkan (2016) dari Universitas Gajah Mada dan juga menyandang gelar Master of Fine Arts dalam bidang Tari dan Koreografi dari UCLA Departemen Seni dan Budaya Dunia (2001).

Kinerja karir Eko membentang antara produksi komersial utama hingga proyek penelitian tari. Dia terdaftar sebagai konsultan tari untuk produksi Teater Broadway “Lion King” (Julie Taymor) dan merupakan koreografer untuk produksi internasional besar termasuk Le Grand Macabre (Peter Sellars), “Flowering Tree” (John Adam’s Opera) di Wina, Barbican Center di London dan Lincoln Center di New York, “Opera Jawa” (Garin Nugroho), “Tempest” (MAU Lemi Ponifasio), “Solid.States” bersama Arco Renz, dan merupakan penari utama di tur Madonna 2001 “Drowned World”.

Karya besar terbarunya adalah “Cry Jailolo” dan “BalaBala” yang didukung penari-penari muda dari Jailolo, Maluku Utara. Karya ini telah ditampilkan di Jepang, Australia, Taiwan dan Eropa. Proyek riset pertunjukkanya yang terkini adalah tentang Perwujudan Tubuh Penari Indonesia, yang juga terhubung dengan karyanya tentang budaya maritim yang berjudul “The Future of Dance is Under Water”.

 


 

2. SOLO DANCE STUDIO & EKOSDANCE COMPANY

 

Solo Dance Studio dan Ekosdance Company adalah perusahaan tari profesional yang bertujuan mencari seluruh tradisi di Indonesia dan untuk menjalin koneksi dengan sumbernya. Proses menari dan kecerdasan gerak tubuh adalah upaya mencapai pemahaman tari dan kehidupan manusia yang lebih baik.

Solo Dance Studio didirikan pada 1995 sebagai Girindha Natya Studio. Kemudian pada 1996, Eko Supriyanto sebagai pendiri, sutradara dan koreografer artistik bersama Tria Vita Hendra Jaya sebagai perancang artistik dan pencahayaan, bersama lima anggota perusahaan lainnya menamai ulang Girindha Natya Studio sebagai “Solo Dance Studio”. Bukan hanya menandakan asalnya yang dari Kota Solo atau Surakarta melainkan juga memiliki arti penampilan solo dalam kelompok besar. Secara filosofis, juga memiliki makna menari solo/sendiri sebagai sebuah pertunjukkan yang jujur. Ekosdance Company juga didirikan oleh Eko Supriyanto, perusahaan ini bekerja di seluruh Kepulauan Indonesia, menciptakan karya di destinasi wisata dan mengeksplorasi arti dari “menyelam di bawah permukaan”.

Misinya adalah menciptakan lingkungan pembelajaran, belajar dan mengembangkan proses. Melatih prinsip seni pengerjaan dan proses. Ruang eksplorasi yang tidak memiliki batas adalah sebuah peran yang terus dicari oleh “’Solo Dance Studio” dan “Ekosdance Company” untuk melihat dan menemukan kemungkinan pergerakan estetika, kolaborasi dan koreografi dengan pengetahuan yang mengedepankan kejujuran.

 


 

3. TEATER TETAS, JAKARTA

Teater Tetas adalah kelompok teater kontemporer yang didirikan pada 30 September 1978 oleh sekelompok penggerak teater di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan di Jalan Bulungan. AGS Arya Dipayana, pendiri teater ini, mendapat penghargaan kebudayaan dari Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta pada 2005. Teater Tetas secara berkala memanggungkan  pertunjukan di Gedung Kesenian Jakarta, `Taman Ismail Marzuki, Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, pusat-pusat kesenian lainnya di Indonesia, serta di beberapa negara di Eropa

Beberapa karya yang pernah dipentaskan adalah Seorang Anak Menangis, Palaganada:  Jejak Surga, Julung Sungsang, Republik  Anthurium, Raung Kuda Piatu, dan Durna Rumangsa. Selain itu, pentas kerja sama  dengan Project Phakama London dengan judul The World at My Feet di Gedung Kesenian Jakarta dan British International School, dan Bunga di Comberan bersama Teater Sakata

dan Yayasan  Kelola. Pada 2012 dan 2016 bekerja sama dengan Profesor Dr. Werner Schulze dari Universitas Musik dan Seni Pertunjukan Wina, Austria, Teater Tetas mementaskan naskah Mimpi dan Belenggu Prometheus di Yunani, Slovenia, Austria, dan Hungaria.

 


 

4. Gayo Lues/Gaya Gayo, ACEH

GAYAGAYO adalah grup yang berfokus pada pengembangan tradisi Nusantara, terutama dalam kaitannya dengan komposisi musik & perkusi tubuh. proyek komposisi GAYAGAYO berakar pada kesenian tradisi kuna, terutama yang memiliki unsur musikalitas tinggi, untuk kemudian dikembangkan menjadi komposisi-komposisi baru.

Dalam setiap penggarapan komposisi, GAYAGAYO memakai metode workshop bersilang antara pelaku tradisi dan musisi, sehingga keduanya dapat bersenyawa dan tidak sekedar menjadi tempelan.

Profil Komposer

Joel Tampeng berperan sebagai salah satu founder dan komposer utama di GAYAGAYO. Ia dikenal sebagai gitaris, komposer dan arranger. Karyanya antara lain tercatat dalam album musik etnik progresif Anane “Slebar Slebor”, solo gitar “Angin Timur” dan “#Reborn”, grup legendaris Sirkus Barock dan Kantanta Barock, serta kolaborasi dengan beberapa artist nasional dan daerah. Kali ini Joel Tampeng bekerja sama dengan para pelaku asli tradisi Saman dari Gayo Lues.

Judul Karya “RHYTHM OF SAMAN”

Rhythm of Saman memperkenalkan kembali Saman Gayo dalam balutan musik etnik progresif. Saman dilihat sebagai instrument musik perkusif. Alunan vokal purba diramu dengan instrument musik modern menciptakan nuansa yang sakral, mistis, sekaligus baru.

 


 

5. SANGGAR SENI JINGGO SOBO, BANYUWANGI

Sanggar Seni  Jinggo Sobo adalah sebuah lembaga pendidikan yang berorientasi pada kebudayaan, tradisi, dan budaya, sanggar seni ini beralamat di Dusun/Ds Wonosobo, Kec. Srono, Kab. Banyuwangi. Mulai berdiri dan mengabdi pada masyarakat sejak pada 10 Januari 2004, dan secara resmi terdaftar di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada tanggal 10 Januari 2006. Berbagai event bertaraf nasional maupun internasional telah dirasakan sanggar seni yang memiliki nama akrab JS ini. Berbagai prestari juga telah diperoleh sanggar ini, hadir sebagai salah satu sanggar yang disegani karena prestasinya, JS semakin yakin akan kelangsungannya.               

Judul Karya: “GANDRUNG SLEREK BLAMBANGAN”

Kabupaten Banyuwangi memiliki wilayah pantai ± 175 km. Masyarakat memiliki kesadaran dalam pelestarian bahari. Sehingga menjadikan lokasi berderetnya objek wisata pantai dan hasil laut dengan segala jenisnya.masyarakat nelayan mengelolanya dengan cerdas. Dimulai dengan ritual adat petik laut sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kabar semebyar seantero jagad bagai sang pelaut menebar jaring dengan sepasang perahu raksasa bernama slerek. Mereka arungi samudera menantang gundukan-gundukan gelombang yang menggunung. Sehingga Banyuwangi yang masih melekat dengan sebutan Blambangan semakin digandrungi, dikunjungi dan ditinggali kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Sekilas gambaran tersebut diusung dalam gerak tari yang stakatis dan estetis oleh seorang Alek Joko Mulyo bersama Sanggar Seni Jinggo Sobo. Irama musiknya berlaras pelog dan slendro serta hentakan musik perkusi khas hadrah kuntul Banyuwangi sangat dipengaruhi liuknya alun gelombang dan debur ombak di pantai yang terus menerus dihembus angin. Kesatuan gerak dan irama musik sangat menyatu dalam karya tari yang berjudul “Gandrung Slerek Blambangan”.


6. RIAU RHYTHM CHAMBERS INDONESIA, PEKANBARU-RIAU

Riau Rhythm Chambers Indonesia memegang teguh misi mereka untuk memperkenalkan musik Melayu dalam bentuk kontemporer dengan menerapkan banyak teknik dan konfigurasi instrumen dalam komposisi mereka: dari biolin, cello, akordeon, klarinet, calempong, flute, hingga vibraphone dan alat perkusi. Mulanya hanya sekedar ide yang muncul dari sang komposer serta kedua teman bermusiknya, Hari Sandra dan Alyusra, pada tahun 2001. Di tahun yang sama, Riau Rhythm Chambers memenangkan juara ketiga di International Folklore Festival (Festival Cerita Rakyat Internasional) yang diselenggarakan di Agrigento, Italia.

Setelahnya, Riau Rhythm Chambers mengumpulkan daftar panjang pertunjukkan-pertunjukkan mereka di luar negeri yang didukung oleh musis dan komposer lokal maupun internasional seperti Sapto Rahardjo, Ron Reeves, I Wayan Sadre, dan masih banyak lagi. Beberapa pertunjukkan mereka antara lain di atas panggung Festival Film Internasional Busan ke-13 (2008); Festival Musik dan Tari Rakyat di Pendic, Turki (2007), juga Kompetisi Musik Singapura (2004).

 

Judul Karya: “SUVARNADVIPA”

Suvarnadvipa mengeksplorasi warna Melayu dengan konsep tradisi dan kekayaan lokal. Kita bebas mengeksplorasi gaya memainkan instrumen menjadi musik inovatif yang masih memiliki akar Musik Melayu. Proses pembuatan album Suvarnadvipa ini bukan hanya sekedar mengeksplorasi instrumen melainkan juga disertai penelitian tentang budaya Kampar; budaya lokal Riau. Sejarah lisan dan kisah Candi Muara Takus adalah wawasan utama dari Suvarnadvipa.

 


 

7. DANANG PAMUNGKAS (Dan’s Dance Studio), SOLO

Danang Pamungkas merupakan seorang Penari dan Koreografer asal Solo. Alumni  Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Aktif mendalami tari tradisi, dan belajar tari gaya Mangkunegaran di keraton Mangkunegaran Surakarta. Tahun 2008 – 2011 bergabung dan bekerja sebagai penari dengan Claud Gate Dance Theater  of Taiwan koreografer Lin Hwai Min Di Taiwan.

Karya tari yang pernah disusun:

  • ‘Panyot Pun Padam” Peraih juara 1 dalam Lomba koreografi Nasional TIM Jakarta, Surabaya Art Festival (2004)
  • “Beat Project” Peraih hibah Kelola untuk karya Inovatif pentas di   Teater Arena Taman Budaya Surakarta (2011)
  • Teater Salihara Jakarta, dan Indonesian Dance Festival di Gedung Kesenian jakarta (2012);
  • Sebagai koreografer dalam Opera Jawa Selendang Merah Sutradara Garin Nugroho di Teater Jakarta (2013)
  • Occupy the Museum” Break the Harmony” Impulstanz Festival 2013 Welt Museum Vienna Austria “Fly on the Earth” Welt Museum Vienna Austria
  • “ANGST ANGEL; Return” Kolaborasi dengan Maya Dance Theatre Singapura di Singapore (2014)
  • “A Part of Passion ” teater Salihara Jakarta, UNESA SUrabaya, UNES Semarang(2015)
  • Koreografer dalam Silent movie” Satan Jawa” sutradara Garin Nugroho (2015-2016)
  • “Whispered of” National Museum Singapore (2016)
  • “Broken Buterfly” American Dance Festival 2016 Durham USA.

8. Otniel Tasman (Otniel Dance Community), BANYUMAS

Otniel Tasman merupakan seorang koreografer muda yang sangat kuat menekuni tradisi Jawa, terutama tradisi Banyumas, yang merupakan daerah asalnya. Otniel Tasman mengeksplorasi Lengger Banyumas, yang merupakan bahasa ibunya, Ini memberinya pengalaman dalam memahami setiap kejadian dalam hidupnya dan mengilhami dalam menciptakan karya. Keunikan Lengger adalah ditarikan oleh pria, mengenakan kostum dan make up wanita, penari biasanya dikenal dengan sebutan Lengger Lanang. Otniel sedang menjajaki banyak gagasan berdasarkan identitas gender Lengger Lanang, dan koreografi untuk karyanya. Karyanya adalah Rohwong (2010), Angruwat (2010), Mantra (2012), Looping Back Mantra (2012), Barangan (2013), Lengger Laut (2014), Penantian Dariah (2015), dan Stand Go Go (2017). Otniel merupakan lulusan dari Institut Seni Indonesia  Surakarta, (2015), dia memiliki beberapa karya kolaborasi dengan seniman nasional dan internasional, seperti: Ming Wong (Jerman), Daniel Kok (Singapura), Maxine Happner (Kanada), Hanafi Muhammad (Indonesia ), Garin Nugroho (Indonesia).

 

Judul Karya : “LENGGER LAUT”

Karya tari Lengger Laut diinspirasi dari perjalanan hidup Dariah, seorang penari Lengger Lanang di Banyumas. Secara lahiriah Dariah adalah seorang laki-laki, akan tetapi ia meyakini dirinya seorang perempuan. Hal tersebut dipresentasikan dalam penampilan kesehariannya dan saat menari. Sebagai bintang Lengger sosok Dariah diidolakan banyak lelaki, tak ayal kisah cintanya pun dimulai dari panggung ke panggung. Namun demikian perjalanan hidup Dariah penuh dengan gejolak, pengorbanan, penantian cintanya, kesetiaannya pada Lengger dan hubungan dengan masyarakat di lingkungannya. Kompleksitas inilah yang dihadirkan oleh Otniel Tasman dalam karya tari Lengger Laut.


9. Vivian Evelyn Christine & Revaldy Gustaf Junior Sooai, Nusa Tenggara Timur

Revaldy Gustaf Junior Sooai

Merupakan Juara I Duta Wisata Kota Kupang 2015. Lahir di Kupang, 28 Januari 1997. Selain mahir memainkan musik Sasando, ia juga berprodesi sebagai penyiar TVRI NTT.

Prestasi yang pernah diraih :

  • Juara I Duta Wisata Wisata Kota Kupang 2015
  • Juara I Duta Humas POLDA NTT 2016
  • Juara I Duta Wisata Rote Ndao 2016
  • Juara I Duta Wisata NTT 2016
  • Juara I Duta Wisata Indonesia 2016
  • Juara I Bali International Choir Festival 2015
  • Anggota Paduan Suara Kenegaraan Gita Bahana Nusantara 2016

Vivian Evelyn Christine

Merupakan Mahasiswa muda dari Universitas Widya Mandira Kupang sekaligus Juara I Duta Wisata Kota Kupang 2015. Lahir di Kupang, 28 Januari 1997. Selain mahir memainkan musik Sasando, ia juga berprodesi sebagai penyiar TVRI NTT.

Prestasi yang pernah diraih :

  • Runner Up Nona Kupang 2015
  • Runner Up putri pariwisata kota kupang 2015..
  • Juara favorite nona kupang 2015
  • Juara favorite putri pariwisata kota kupang 2015
  • Duta kesenian Indonesia untuk Thailand 2015
  • Duta kesenian Indonesia untuk RRC 2015
  • Duta Humas POLDA NTT 2016
  • Duta Wisata Rote Ndao 2016
  • Duta Wisata NTT 2016
  • Duta Wisata Indonesia 2016
  • Pemain sasando solo di Istana Negara 28 okt 2016

 

 


10.  TIARA SELATAN ART COMUNITY OF SOUTH BANGKA 

Sinopsis

“Larung Sesaji”

Larung Sesaji Dalam Bahasa Tradisional Suku Sekak Disebut Buang Jung, Adalah Bagian Tradisi Dari Suku Sekak Desa Kumbung Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi kepulauan Bangka Belitung. Larung Sesaji Merupakan Ungkapan Rasa Syukur Kepada Sang Pencipta Atas Hasil Laut Yang Telah Diperoleh Serta Keselamatan Ketika Berlayar Dilaut, Berawal Dari Permainan Tunjang Angin Bernuansa Mistis Yang Dipimpin Oleh Seorang Pawang, Dengan Gerak Dasar Tari Seni Pertunjukan Gajah Menunggang.

 

Sumber :

  1. Bapak Masroh (Penilik Kebudayaan Kecamatan Toboali Bangka Selatan Tahun 1985).
  2. Datuk Nasron Bahar (Ketua Lembaga Adat Melayu Bangka Selatan).

Penata Tari               : Nora Aprillia dan Shella Septia

Penata Musik             : Rudianto Jusman dan Suri Anwar

Penata Rias /Busana  : Nopri Dwi Anggara dan Yati Gusyairi

Penanggungjawab      : Anto Soekarsa 

 

Event Nasional Yang Pernah Diikuti Sanggar Seni Tiara Selatan :

  1. Jogja Java Carnival Tahun 2010.
  2. Workshop Dan Bedah Karya Bersama Ibu Wiwik Sipala, Bapak Jamal Gentayangan, Dan Bapak Aji Sukarji Di Institut Kesenian Jakarta Tahun 2014.
  3. Jura Ke 3 Festival Gebyar Wisata Dan Budaya Nusantara Ke-13 Di Jakarta Convention Center Tahun 2015.
  4. Kolaborasi Bersama Seniman Mancanegara Dan Bapak Galih Naga Seno Dalam Acara Toboali City On Fire 2017.
  5. Konser ‘’Nyanyian Bumi’’ Oleh Bapak Jamal Gentayangan Dalam Acara Fost Festival Celebraty Daily Authetic Di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Tahun 2017.

 


11. Semarak Candra Kirana, Solo

 


12. Cry Jailolo, West Halmahera

Cry Jailolo terinspirasi oleh tarian “Legu Salai” dari suku Sahu dan tari “Soya-Soya” dari Maluku Utara. Ditarikan oleh 7 pemuda (non-penari) dari Jailolo, Halmahera Barat. Karya ini adalah ungkapan dan optimisme yang kuat bahwa penghancuran terumbu karang di laut akan berhenti, bahwa ikan akan kembali sekali lagi ke karang dan bahwa keheningan di lautan akan dipulihkan. Cry Jailolo merupakan karya koreografer Eko Supriyanto yang ditampilkan dalam sebuah festival besar untuk mempromosikan pariwisata di Jailolo, yang merupakan tempat tinggal beberapa menyelam terhebat dunia namun juga sebuah wilayah yang mengalami degradasi lingkungan. Selama berada di pulau Jailolo, Eko mulai melihat masyarakat dan perairan sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar promosi wisata. Dia mulai berinvestasi terhadap masyarakat, bekerja dengan pemuda yang tinggal di beberapa daerah yang tertinggal. Dipengaruhi oleh hubungan dan pengalaman dunia bawah laut, Eko mulai mengembangkan tarian kontemporer dengan beberapa remaja yang terpilih, menjadi Cry Jailolo, sebuah karya “silent tourism”. Cry Jailolo memberi suara pada komunitas terpencil di Halmahera Barat melalui pertunjukan, melalui kapasitas dan dedikasi oleh remaja ini.
Karya ini akan dipentaskan langsung oleh putra Halmahera, yaitu :
Greatsia Yobel Yunga, Gerry Gerardo Bella, Noveldi Bontenan, Aldo Talubun, Fernando Migar, Arzhy Lefry Noky, Fernandito Wangelaha