2017

Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., MFA

Eko Supriyanto adalah pendiri dan pengarah artistik untuk EkosDance Company dan Solo Dance Studio di Surakarta, Indonesia. Eko adalah penari dan koreografer Indonesia terdepan di antara generasinya.

Berlatih tarian tradisi Jawa dan pencak silat sejak berumur tujuh tahun, karir pertunjukkan Eko membentang di seluruh Indonesia, mencapai Eropa, Amerika, dan Asia Pasifik. Eko menyandang gelar Doktor Ilmu Seni Pertunjukkan (2016) dari Universitas Gajah Mada dan juga menyandang gelar Master of Fine Arts dalam bidang Tari dan Koreografi dari UCLA Departemen Seni dan Budaya Dunia (2001).

Kinerja karir Eko membentang antara produksi komersial utama hingga proyek penelitian tari. Dia terdaftar sebagai konsultan tari untuk produksi Teater Broadway “Lion King” (Julie Taymor) dan merupakan koreografer untuk produksi internasional besar termasuk Le Grand Macabre (Peter Sellars), “Flowering Tree” (John Adam’s Opera) di Wina, Barbican Center di London dan Lincoln Center di New York, “Opera Jawa” (Garin Nugroho), “Tempest” (MAU Lemi Ponifasio), “Solid.States” bersama Arco Renz, dan merupakan penari utama di tur Madonna 2001 “Drowned World”.

Karya besar terbarunya adalah “Cry Jailolo” dan “BalaBala” yang didukung penari-penari muda dari Jailolo, Maluku Utara. Karya ini telah ditampilkan di Jepang, Australia, Taiwan dan Eropa. Proyek riset pertunjukkanya yang terkini adalah tentang Perwujudan Tubuh Penari Indonesia, yang juga terhubung dengan karyanya tentang budaya maritim yang berjudul “The Future of Dance is Under Water”.

Eko Supriyanto merupakan seorang koreografer berpengaruh di Asia Tenggara dan dengan karya-karya dari beliau yang sudah mendunia, akan menarik masyarakat dunia untuk melihat isu tentang kelautan yang akan diangkat pada SIPA 2017 dengan tema Bahari Kencana Maestro Karya ini.

Pemilihan Eko Supriyanto sebagai maskot dilandasi karena kepedualian beliau terhadap alam bahari Indonesia. Sedikit membuka lembaran lama, dalam pementasan Sasadu on the Sea di Festival Teluk Jailolo pada Mei 2013, Eko Supriyanto dan para penari Jailolo menyuguhkan tarian yang mengisahkan pesona Teluk Jailolo di Maluku Utara yang dikenal dengan keindahan bawah laut tapi diusik oleh bom ikan para nelayan.
Hal tersebut menjadi salah satu bukti kecintaan Eko Supriyanto terhadap alam bahari Indonesia. Dengan segudang prestasi dan juga sebuah karya tentang BAHARI, maka semakin mengukuhkan Eko Supriyanto sebagai maskot SIPA 2017.