2018

Bagi Melati Suryodarmo, tubuh manusia adalah salah satu sumber penting bagi inspirasi karya-karyanya. Melati memandang  bahwa tubuh manusia tidak hanya dari segi fisiknya namun tubuh adalah muatan memori yang terus tumbuh. Tubuh memiliki resistensi terhadap lingkungan dimana dia hidup. Sistem yang hergerak dalam tubuh psikologis manusia, mendorongnya untuk terus mencari dan menemukan struktur tingkah laku dan pemikiran baru tentang manusia dan kemanusiaannya. Tubuh tidak akan lepas dari tautan sejarah yang melekat pada kehidupan manusia. Dia tidak hanya sekedar badan yang memiliki fungsi, namun dia merupakan konstelasi segala percampuran dan perubahan peradaban manusia.

Melati Suryodarmo, lahir pada tahun 1969 di Solo, Indonesia. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran Bandung, pada tahun 1994 Melati Suryodarmo memulai pendidikan senirupa dan performance di Hochschule fuer Bildende Kuenste Braunschweig Jerman dan menyelesaikan pasca sarjananya pada tahun 2003. Karya-karya Melati Suryodarmo banyak mengangkat tema-tema manusia dalam kehidupan politik dan sosial, dan berkaitan dengan kejiwaan manusia dan filsafat kebudayaannya dalam kehidupan bermasyarakat. Bentuk-bentuk karyanya lebih banyak merupakan karya “performance art”, atau senirupa pertunjukan. Karya-karya performance art yang diciptakannya sebagian besar berdurasi panjang dan banyak ditampilkan di museum-museum atau galeri-galeri di berbagai negara. Selain berkarya dalam performance art, Melati Suryodarmo juga  berkarya di bidang fotografi dan video art. Karya-karya performance art yang sebagian besar berdurasi panjang itu diantaranya adalah: I LOVE YOU (2007), Perception of Patterns in Timeless Influence (2007), Alé Lino (2003), Der Sekundentraum (1998), Conversation with the Black (2011) dan I’m a Ghost in My own House (2012), Transaction of Hollows (2016).  Namun dengan bekal ilmu ketubuhan yang berbasis tradisi Jawa, “Butoh” (seni gerak dari Jepang) dan performance art, Melati Suryodarmo juga menciptakan karya-karya koreografi tari yang khas. Sejak tahun 1994 hingga tahun 1999, Melati juga banyak tampil sebagai penari pada produksi Anzu Furukawa (Jepang). Karya-karya koreografi Melati diantaranya: Rindu (1996), Kashya.Kasyha Mutiku (1996), Sur le Vent Du Temps (1997), Alost There (2011), Sisyphus (2014), Tomorrow As Purposed (2016) dan Vertical Recall (2017).

Melati telah menampilkan karya performance art nya di berbagai festival internasional dan berpartisipasi pada pameran-pameran senirupa di berbagai negara, diantaranya: “the Exhibition of the Life of Egon Schiele” Van Gogh Museum Amsterdam (2005); Videobrasil Sao Paolo (2005), Haus der Kulturen der Welt Berlin, 52nd Venice Biennale dance Festival (2007), KIASMA Helsinki (2007), Manifesta7, Bolzano, Italy (2008),In Transit festival, HKW Berlin (2009), Luminato Festival of the arts, Toronto, (2012), Asia Pacific Triennale, Qagoma Brisbane (2015), Guangzhou Triennale, Guangdong, China (2015); Singapore Biennale, Singapore, (2016), “Sunshower” – contemporary Art in South East Asia – National Art Centre Tokyo (2017), Indonesia Dance Festival, Jakarta (2014, 2016), Europalia Festival, Brussels  (2017), dll Sejak tahun  2007, Melati memfasilitasi PALA (Performance Art Laboratory Project) dan “undisclosed territory” performance art event yang diadakan setiap tahunnya. Walaupun sejak lebih dari dua puluh tahun, Melati Suryodarmo meniti karir dan berkarya tanpa henti di Jerman, pada tahun 2011, Melati kembali ke Solo dan meneruskan proses berkaryanya dari kota kelahirannya itu.  Sejak tahun 2012, Melati Suryodarmo mendirikan Studio Plesungan di Karanganyar, sebuah ruang alternatif untuk laboratorium performance art.